Tragedi Tewasnya Affan Kurniawan, Pengamat Ingatkan Publik Waspadai Narasi Provokatif
- Tangkapan layar X
“Ini yang penting dipahami: kejadian ini adalah peristiwa penuh duka, bukan niat represif. Justru dari sikap terbuka Kapolri kita melihat negara berani introspeksi dan memperbaiki diri,” jelasnya.
Namun Haidar mengingatkan, setiap musibah besar selalu ada pihak yang mencoba menunggangi duka menjadi alat politik. “Kita harus waspada. Jangan biarkan narasi provokatif menjerumuskan kita. Emosi bisa membuat kita kehilangan arah, padahal aparat sudah menunjukkan tanggung jawab dan keterbukaan,” katanya.
Lebih jauh, Haidar menegaskan bahwa demokrasi sejati bukan diukur dari kerasnya teriakan, melainkan kemampuan rakyat menjaga akal sehat di tengah cobaan. Ia mengingatkan agar kesedihan tidak berubah menjadi komoditas politik.
Dalam kesempatan itu, Haidar juga mengaitkan pesan kebangsaan dengan langkah diplomasi yang sedang dibangun Presiden Prabowo Subianto di panggung internasional. Dari pertemuan dengan Presiden Putin di St. Petersburg, Presiden Lula di Brasil, hingga dukungan Australia terhadap keanggotaan Indonesia di OECD dan CPTPP, semuanya menurut Haidar memperlihatkan bahwa Indonesia semakin diperhitungkan dunia.
“Di saat kita berduka, mari jangan lupakan langkah besar yang sedang ditempuh bangsa ini. Presiden Prabowo sedang memperjuangkan diplomasi dan martabat Indonesia. Jangan biarkan duka kita dimanfaatkan untuk mengikis kepercayaan rakyat pada pemerintah dan aparatnya,” ujarnya.
Kepada komunitas ojol, Haidar menyampaikan empati mendalam. Ia meminta agar kesabaran yang selalu ditunjukkan dalam menghadapi panas, hujan, dan macet juga hadir dalam menghadapi duka.
“Kesabaran itu adalah kekuatan. Percayalah, negara melalui Kapolri sudah menunjukkan empati, dan kebenaran akan ditegakkan,” tutup Haidar Alwi.