MIFX: Keberanian Ambil Risiko, DNA yang Sama antara Trader dan Entrepreneur

Andy Lazuardy, VP Corporate Strategy MIFX
Sumber :
  • Istimewa

VIVA Jakarta – Trader dan entrepreneur pada intinya digerakkan dari DNA yang sama, keberanian dalam mengambil risiko yang terukur. Itu menjadi pesan inti dari MIFX, yang disampaikan di depan lebih dari 70 pebisnis di Sevenpreneur Business Blueprint Program (SBBP) Batch 8 di AONE Hotel, Jakarta Pusat.

 

VP Corporate Strategy MIFX, Andy Lazuardy, dalam sesi panel bertajuk “Running a Business with a Trader Mindset”, menjabarkan kepada para pelaku usaha tentang kesamaan mendasar antara dua profesi yang sering dianggap berbeda dunia tersebut.

 

“Trader dan entrepreneur itu sebenarnya sangat mirip — keduanya mengambil keputusan sebelum kepastian datang,” ujar Andy.

 

“Yang membedakan bukan siapa yang punya informasi paling lengkap, melainkan siapa yang lebih nyaman bergerak di tengah ketidakpastian,” lanjutnya.

 

Dijelaskan Andy, tidak sedikit orang salah memahami arti percaya diri. Menurutnya, percaya diri yang sejati bukan berarti yakin akan hasilnya. Tetapi merupakan kemampuan mengambil langkah meski belum punya seluruh jawaban.

 

Menurutnya ada 3 prinsip yang membedakan antara yang berani bertintak dan yang terus menundanya. Pertama, jangan menunggu kondisi sempurna untuk memulai. Kedua, pikirkan dulu apa skenario terburuk yang mungkin terjadi. Sedangkan yang ketiga, jangan biarkan emosi, baik rasa takut, terlalu bersemangat, maupun ego, yang mengendalikan keputusan.

 

“Dulu saya terlalu fokus memikirkan keuntungan. Begitu saya mulai bertanya ‘apa skenario terburuknya?’, justru saya jadi lebih tenang mengambil keputusan. Karena ketika kita paham seberapa besar risiko yang siap ditanggung, langkah kita jadi jauh lebih jelas,” jelas Andy, yang sebelumnya juga membangun beberapa bisnis sendiri di bidang edukasi teknologi dan agritech.

 

Mengubah Cara Pandang terhadap Uang

Dia juga menyoroti pola pikir finansial yang umum dimiliki banyak orang Indonesia, di mana fokus utamanya yakni bagaimana caranya supaya uang tidak hilang. Pola pikir defensif seperti ini, menurutnya, justru menjadi penghambat utama untuk tumbuh.

 

“Kalau kita hanya fokus supaya tidak rugi, secara tidak sadar kita juga membatasi kemampuan kita untuk tumbuh. Pertumbuhan selalu menuntut kesediaan mengambil risiko yang terukur. Perubahan cara berpikir inilah yang mengubah segalanya,” jelasnya.