Rakernas SP PLN Tekankan Peran Strategis PLN Menjaga Kedaulatan dan Ketahanan Energi Nasional
- SP PLN
Jakarta – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Serikat Pekerja PLN digelar. Pada hari kedua, dihadirkan dua narasumber yang memberikan pembahasan dalam perspektif strategis mengenai peran PLN dalam menjaga kedaulatan dan ketahanan energi nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Pada sesi pertama, Mayjen TNI Dr. J. Robert Giri, berbicara dengan tema 'Peran Strategis PLN Mengawal Kedaulatan Energi Nasional'. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa dunia saat ini telah bergerak dari era Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA) menuju era Brittle, Anxiety, Non-linear, Incomprehensible (BANI), di mana berbagai dinamika geopolitik global semakin mengerucut pada isu energi.
Menurutnya, kedaulatan energi merupakan kemampuan bangsa untuk memanfaatkan sumber daya energi secara mandiri demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Energi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan sumber daya strategis yang menentukan keberlangsungan kehidupan nasional.
“Jangan melihat PLN sebagai perusahaan biasa. PLN adalah instrumen strategis negara yang memperkuat ekonomi, sosial budaya, pemerintahan, pertahanan, dan keamanan nasional,” tegasnya dikutip Jumat, 26 Juni 2026.
Rakernas SP PLN 2026
- SP PLN
Ia menekankan bahwa listrik merupakan urat nadi kehidupan bangsa. Gangguan pasokan listrik tidak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat, tetapi juga pada stabilitas ekonomi, pelayanan publik, investasi, hingga kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Dalam perspektif tersebut, insan PLN dinilai memegang peran penting dalam menjaga stabilitas nasional. Kehadiran listrik hingga ke pelosok negeri menjadi wujud nyata kehadiran negara kepada rakyat, bahkan hingga ke ruang belajar dan kamar tidur anak-anak Indonesia.
“Negara hadir kepada rakyat hingga ke pelosok negeri melalui PLN. Karena itu, setiap pegawai PLN harus memiliki wawasan kebangsaan, integritas, dan kesadaran bahwa pekerjaan yang dilakukan memiliki dampak langsung terhadap keberlangsungan negara,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sebagai pilar utama kedaulatan energi. Ketergantungan terhadap energi fosil dan impor energi masih menjadi tantangan yang harus diatasi melalui kebijakan yang visioner dan berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, ia juga menyoroti sejumlah tantangan pengelolaan energi nasional, antara lain ketergantungan impor energi, biaya transisi menuju EBT yang tinggi, keseimbangan antara tarif listrik, kesehatan fiskal negara dan kebutuhan investasi, ketahanan jaringan pada negara kepulauan, serta perlindungan terhadap infrastruktur vital nasional.