Harga Pertamax Tak Turun Meski Minyak Dunia Melemah, Ini Penjelasan Pakar
- Dok. Pertamina
VIVA Jakarta – Keputusan pemerintah dan PT Pertamina (Persero) untuk mempertahankan harga Pertamax di tengah pelemahan harga minyak dunia dinilai masih memiliki landasan kebijakan yang rasional. Sejumlah pakar menilai penahanan harga BBM nonsubsidi jenis RON 92 tersebut tidak bisa dilihat hanya dari pergerakan harga minyak mentah global semata.
Harga Pertamax tetap berada di level Rp16.250 per liter ketika Pertamina mengumumkan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada Juli 2026. Sementara itu, sejumlah produk BBM lainnya justru mengalami penurunan harga.
Ekonom Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menjelaskan berdasarkan model penghitungan yang dikembangkannya, keputusan mempertahankan harga Pertamax di level Rp16.250 per liter sebenarnya sudah dapat diperkirakan.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi penghalusan harga atau price smoothing yang selama ini diterapkan Pertamina.
"Ketika Pertamax dinaikkan menjadi Rp16.250 pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang disiratkan formula karena harga produk BBM dunia saat itu sedang sangat tinggi. Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya," kata Yayan kepada awak media, dikikutip, Jumat (3/7/2026).
Yayan menjelaskan, harga BBM nonsubsidi tidak semata-mata mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Berdasarkan model yang mengacu pada formula penetapan harga pemerintah dan perilaku Pertamina sebagai penentu harga, Pertamax diperkirakan memang akan tetap dipertahankan.
Untuk Agustus, ia memperkirakan formula dasar memang mengarah pada harga sekitar Rp13.700 per liter. Namun, dengan pendekatan smoothing, harga diperkirakan tetap berada di kisaran Rp16.000 per liter atau tidak jauh berbeda dari harga saat ini.
Menurut Yayan, jika Pertamax langsung diturunkan mengikuti formula, manfaat utamanya adalah penurunan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan. Sebaliknya, apabila harga dipertahankan, manfaat dari turunnya harga minyak dunia lebih banyak digunakan untuk memperbaiki margin Pertamina.
"Jika Pertamax dipangkas ke formula, estimasi pass-through kami menyiratkan sekitar−0,4 poin persentase dari inflasi selama tiga bulan (pelonggaran tahunan dari 3,34% menuju sekitar 2,9%); jika ditahan, dampaknya nihil dan seluruh penurunan minyak mengalir ke anggaran dan ke pemulihan margin Pertamina," kata dia.