Batik Shanding: Energi yang Melampaui Keterbatasan

Batik Shanding, sebuah usaha sosial sekaligus sanggar produksi batik tulis dan batik ciprat inklusif asal Wonosobo.
Sumber :
  • PLN IP

Total karyawan Nunung, saat ini ada sekitar 15 orang. Batik Shanding telah menjadi rumah pemberdayaan bagi pekerja penyandang disabilitas dengan beragam kondisi, mulai dari disabilitas intelektual, tunanetra, tunarungu, hingga anak dengan down syndrome. Mereka berkarya dengan cara yang beragam.

img_title Pegiat Isu Disabilitas Apresiasi Wapres Gibran Buka Ruang Istana bagi Anak Penyandang Disabilitas

"Kalau tunanetra, produknya batik kriwil, itu bermain warna. Dari tunanetra itu kita bekerja sama dengan teman-teman tunadaksa seperti saya. Nanti kita modifikasikan lagi, begitu. Tunarungu biasanya untuk menjahit bajunya, mereka mendesain bajunya, kalau jadi baju seperti ini," kata Nunung mencontohkan.

"Di sini juga ada anak down syndrome, bikin batik kontemporer yang sesuai dengan desainnya dia. Misal dia mengarakterkan kartun di daya pikirannya, kita buat pola-polanya," tambahnya.

img_title Kejati Jambi Dorong Penegakan Hukum Terpadu untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Batik Shanding

Photo :
  • Arsip Foto Batik Shanding/Instagram

Nama "Shanding" sendiri lahir dari ketulusan batin yang menyatukan napas hidupnya dengan sang buah hati, Keisha Alexi Aryani Putri, yang sama-sama menyandang disabilitas.

img_title Pengembangan PLTP Gunung Ungaran Disebut Tetap Memperhatikan Sumber Daya Air, Alam dan Warisan Budaya

"Sandhing dalam bahasa Jawa memiliki arti dekat, berdampingan, atau menyertai. Filosofinya melambangkan kesetiaan, kebersamaan, pendamping hidup, atau hubungan yang erat," tutur Nunung.

Filosofi tentang kesetiaan dan ikatan batin yang erat ini kemudian ia ikhtiarkan menjadi ruang kemandirian bagi sesama penyandang disabilitas.

Perjalanan Batik Shanding merajut asa tidak lahir dalam semalam. Nunung memulainya pada 2017. Namun, baru pada rentang 2019 hingga puncaknya saat badai pandemi COVID-19 melanda, usaha ini menemukan bentuk bisnis yang utuh. Semua berawal dari keresahan Nunung saat melihat minimnya ruang kemandirian bagi kawan-kawan disabilitas.

Dari eksperimen awal membuat batik ciprat yang ternyata diminati pasar, Nunung terus mengepakkan sayap hingga mengembangkan teknik batik tulis. 

Batik Shanding

Photo :
  • Arsip Foto Batik Shanding/instagram

Sehari-hari, Nunung memang mengabdikan hidupnya untuk membangun dan mengembangkan Batik Shanding. Di tengah turun naiknya bisnis, Nunung juga mengupayakan pemasaran dan tetap memberikan hak bagi hasil kepada teman-teman disabilitas.

Ia menjelaskan, total omzet terus meningkat sejak awal dibangun. Saat ini, rata-rata sudah mencapai Rp15 juta per bulan.

"Kalau paling sepi biasanya Rp7 juta. Nah, dari omzet itu dibagikan lagi kepada teman-teman disabilitas untuk bagi hasil. Saya tetap dapat bagian yang sama, Kalau tidak nanti ada kecemburuan. Kalau ada proyek tambahan ya ditambahin, kalau lagi sepi ya dibagi omzet yang didapat per bulan," jelasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title