Konsumsi Gula di Asia Tenggara Mengkhawatirkan, Penting Sosialisasi Reformulasi Produk Pangan

Food Industry Asia (FIA) menyelenggarakan Lokakarya Ilmiah.
Sumber :
  • Istimewa

VIVA Jakarta - Penyakit tidak menular terkait pola makan jadi kekhawatiran yang berkembang di kawasan Asia Tenggara. Negara di Asia Tenggara dinilai menghadapi tantangan soal masyarakat yang tinggi dalam konsumsi gula.

img_title Malaysia Ketiban Rezeki dari Pasien Indonesia, 970 Ribu Orang Berobat Sepanjang 2025

Demikian dibahas dalam lokakarya ilmiah & regulasi regional bertema 'Scientific Solutions for Public Health : Enabling Policies to Unlock Reformulation with Non-Sugar Sweeteners Science'. Forum lokakarya itu dihadiri regulator, akademisi dan perwakilan industri dari seluruh Asia Tenggara untuk membahas bukti ilmiah terkini tentang Pemanis Non-Gula dan perannya dalam mendukung strategi pengurangan gula.

Chief Executive Officer dari Food Industry Asia Matt Kovac mengatakan dengan kekhawatiran penyakit tak menular imbas pola makan konsumsi gula berlebih diperhatikan setiap negara di Asia Tenggara. Menurut dia, pemerintah di seluruh Asia Tenggara sudah memajukan berbagai inisiatif kesehatan masyarakat, termasuk memperkuat sistem pelabelan nutrisi.

img_title mGanik Care Buka Cabang Ketiga di Gading Serpong, Perluas Pendampingan Pasien Diabetes

Selain itu, ada sosialisasi untuk mendorong reformulasi produk dalam mendukung pilihan pola makan yang lebih sehat. Kata dia, lokarkaya juga untuk membangun pemahaman ilmiah, mendorong komunikasi yang transparan dan mempromosikan dialog regional di antara regulator, akademisi, hingga ahli kesehatan masyarakat

Menurut Kovac, negara-negara Asia Tenggara mengalami peningkatan penyakit tak menular. Bagi dia, penting juga menyatukan ilmu pengetahuan, kebijakan dan industri untuk memperkuat kolaborasi. Selain itu, ia bilang perlu juga memajukan tujuan bersama untuk meningkatkan hasil kesehatan masyarakat. 

img_title 5 Kebiasaan Sehat agar Tetap Bugar dan Mandiri di Usia 70 Tahun, Mulai Terapkan Sejak Umur 50

Sementara, Direktur Jenderal Badan Kebijakan Kesehatan yang mewakili Kementerian Kesehatan RI, Prof. Asnawi Abdullah, menyampaikan pemerintah Indonesia tengah mengimplementasikan serangkaian inisiatif kebijakan strategis. Hal itu bertujuan untuk mempromosikan pilihan pola makan yang lebih sehat dan mengurangi konsumsi gula secara nasional. 

Dia bilang kenaikan signifikan penyakit tidak menular berpengaruh terhadap sistem kesehatan negara karena jadi salah satu pemicu kematian masyarakat. Maka itu, diperlukan langkah-langkah baru yang mencakup implementasi sistem pelabelan nutrisi.

Upaya itu bisa melalui label 'Nutri-Level' di bagian depan kemasan untuk menginformasikan konsumen terkait kandungan gula, garam, dan lemak dalam produk pangan. 

"Inisiatif ini merupakan bagian dari transformasi kesehatan nasional yang lebih luas yang menekankan pendekatan seluruh pemerintah dan seluruh masyarakat," jelas Prof Asnawi.

Halaman Selanjutnya
img_title