China Minta Kedaulatan Negara di Selat Hormuz Dihormati Usai Pernyataan Trump

Ilustrasi Kapal minyak di Selat Hormuz
Sumber :
  • Myedisi.com

VIVA Jakarta – Pemerintah China menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara di kawasan Selat Hormuz setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penghentian sementara operasi militer Amerika Serikat di wilayah tersebut.

img_title AS Bersiap Perketat Sanksi Iran, Scott Bessent Sebut Isolasi Ekonomi Belum Pernah Terjadi

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan situasi di Selat Hormuz masih berada dalam kondisi sensitif dan membutuhkan upaya deeskalasi dari seluruh pihak yang terlibat.

Dalam konferensi pers di Beijing, Lin Jian menyebut gencatan senjata secara penuh menjadi langkah penting untuk menciptakan stabilitas di kawasan tersebut. Ia juga menekankan bahwa keamanan, kedaulatan, dan integritas wilayah negara-negara pesisir harus tetap dihormati.

Pernyataan itu disampaikan setelah Donald Trump mengumumkan penangguhan sementara operasi militer bertajuk “Project Freedom”, yakni misi Amerika Serikat untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Melalui platform Truth Social, Trump mengatakan penghentian sementara operasi dilakukan untuk membuka peluang tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Iran.

Meski demikian, Trump menegaskan blokade di kawasan tersebut tetap diberlakukan sepenuhnya sambil menunggu perkembangan pembicaraan dengan Iran.

Trump juga menyebut keputusan itu diambil setelah adanya permintaan dari Pakistan dan sejumlah negara lain, serta adanya kemajuan menuju kesepakatan yang lebih menyeluruh dengan Teheran.

Menanggapi perkembangan tersebut, China menilai kepentingan negara-negara di kawasan Teluk harus diperhatikan secara serius. Beijing juga menegaskan pentingnya menjaga kepentingan komunitas internasional, terutama terkait keamanan jalur perdagangan energi dunia.

Lin Jian mengatakan China berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan menghindari tindakan yang berpotensi memperburuk konflik di Selat Hormuz.

Menurutnya, penyelesaian sengketa melalui dialog dan diplomasi merupakan langkah terbaik untuk mengembalikan stabilitas dan perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi di Beijing.

Dalam pertemuan tersebut, China menyatakan dukungannya terhadap Iran dalam menjaga keamanan dan kedaulatan nasionalnya. Beijing juga mengapresiasi langkah Iran yang masih membuka ruang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.

China turut mendorong negara-negara di kawasan Teluk dan Timur Tengah untuk memperkuat hubungan baik antarnegara demi menjaga stabilitas kawasan.

Pertemuan kedua menteri luar negeri itu berlangsung menjelang agenda pertemuan Presiden China Xi Jinping dengan Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung di Beijing pada pertengahan Mei 2026.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran yang dimulai sejak 28 Februari lalu telah berakhir.

Washington kini disebut lebih fokus pada pengamanan jalur pelayaran internasional melalui “Project Freedom” guna memastikan distribusi energi global tetap berjalan aman.

Pemerintah AS juga menilai gencatan senjata dengan Iran yang disepakati sekitar satu bulan lalu masih tetap berlaku meski ketegangan di kawasan belum sepenuhnya mereda.

Sebelumnya, AS bersama Israel melancarkan serangan gabungan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar dan menimbulkan korban sipil.

Setelah itu, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata pada 7 April 2026. Namun, pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad, Pakistan, belum menghasilkan kesepakatan final antara kedua negara.

 
 
Halaman Selanjutnya
img_title