Film Pesta Babi Jadi Sorotan, Rico Marbun Singgung Potensi Polarisasi Narasi Papua
- Antara
VIVA Jakarta – Alumnus S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura, Rico Marbun, mengajak publik untuk mencermati perkembangan seputar film Pesta Babi, termasuk pola promosi dan berbagai forum yang mengiringi pemutarannya dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Rico, film tersebut tidak lagi semata-mata dipandang sebagai karya yang menyampaikan kritik sosial atau pembangunan. Ia menilai terdapat kecenderungan narasi tertentu yang berkembang di sekitar pemutaran film tersebut dan berpotensi memengaruhi persepsi publik mengenai hubungan Papua dan Indonesia.
“Lambat laun semakin kuat tercium aroma bahwa film Pesta Babi tidak lagi diposisikan hanya sebagai kritik sosial atau kritik pembangunan. Cara film ini dipromosikan, diputar, dan dibingkai dalam berbagai forum menunjukkan kecenderungan mengarah pada kampanye politik identitas yang berpotensi memperlebar jarak antara Papua dan Indonesia,” kata Rico Marbun dalam keterangannya, dikutip Sabtu (6/6/2026).
Rico menilai salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah penggunaan bahasa, narasi, serta aktivitas pendukung yang muncul dalam sejumlah forum pemutaran film. Menurutnya, sejumlah kegiatan tersebut kerap menghadirkan sudut pandang yang menggambarkan Indonesia sebagai pihak yang melakukan penjajahan terhadap Papua.
“Framing semacam itu bukan sekadar kritik terhadap kebijakan negara. Narasi Indonesia sebagai penjajah memiliki konsekuensi politik yang sangat serius karena secara implisit berupaya menegasikan sejarah perjuangan bersama seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat Papua, dalam melawan kolonialisme Belanda,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rico berpandangan bahwa narasi tersebut dapat memiliki dampak yang luas. Ia menyebut setidaknya terdapat dua tujuan yang dapat muncul dari penguatan narasi tersebut, yakni membangun persepsi internasional mengenai situasi Papua dan menciptakan jarak psikologis antara masyarakat Papua dengan masyarakat Indonesia lainnya.
Meski demikian, Rico menegaskan bahwa masyarakat Papua merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia dan memiliki kontribusi dalam berbagai fase pembangunan nasional.
“Padahal rakyat Papua adalah bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Mereka adalah saudara sebangsa yang juga memiliki kontribusi dalam perjuangan dan pembangunan nasional,” tegasnya.
Rico juga menekankan pentingnya menjaga ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, menurutnya, kebebasan tersebut perlu dijalankan secara bertanggung jawab dan tidak diarahkan pada narasi yang berpotensi menimbulkan perpecahan.