Trump Bikin Pasar Iran 'Berpesta', Kelompok Garis Keras Justru Mengamuk

Ilustrasi konflik Amerika Serikat (AS) vs Iran.
Sumber :
  • Istimewa/AI

VIVA Jakarta - Prospek tercapainya kesepakatan sementara antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memicu optimisme di pasar keuangan Iran. Setelah lebih dari 100 hari diwarnai ketegangan dan permusuhan, peluang meredanya konflik mulai diterjemahkan pasar sebagai sinyal positif bagi perekonomian negara tersebut.

img_title Iran Klaim Serang Tiga Kapal Tanker di Selat Hormuz, Kapal Terkait AS Juga Jadi Sasaran

Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan respons cepat. Nilai mata uang rial menguat, harga emas mengalami penurunan, sementara pasar saham Teheran mencatat rekor tertinggi baru. 

Pelaku pasar tampak menaruh harapan besar pada kemungkinan tercapainya kesepakatan yang selama berbulan-bulan dinantikan.

img_title Talenta Muda dan Industri Kreatif; Ketika Ide Mulai Menjadi Nilai Ekonomi

Pada perdagangan Minggu (14/6), nilai tukar rial menguat sehingga satu dolar Amerika Serikat diperdagangkan di bawah 1,68 juta rial di pasar terbuka Teheran. 

Penguatan ini menjadi kabar baik setelah bulan lalu mata uang Iran sempat menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah, yakni sekitar 1,9 juta rial per dolar AS.

img_title Lewat Yeosu World Island Fair 2026, Novita Hardini Tekankan Budaya Harus Jadi Kekuatan Ekonomi

Di saat bersamaan, harga emas di pasar domestik Iran juga mengalami penurunan. Koin emas Emami diperdagangkan sekitar 1,71 miliar rial atau setara sekitar 1.010 dolar AS, turun sekitar 5 persen dibandingkan pembukaan pasar sehari sebelumnya.

Optimisme juga terlihat di Bursa Efek Teheran. Setelah kembali dibuka secara terbatas tiga pekan lalu usai penutupan selama tiga bulan, indeks utama pasar saham terus mengalami kenaikan. 

Pun, pada akhir perdagangan Minggu, indeks melonjak 123.000 poin dan mencetak rekor tertinggi baru di level hampir 4,82 juta poin.

Warga Masih Menyimpan Keraguan

Meski pasar merespons positif, sebagian warga Iran masih meragukan dampak nyata kesepakatan tersebut terhadap kehidupan sehari-hari.

Seorang warga muda di pusat Teheran mengaku dirinya dan keluarganya tetap memilih menyimpan dolar AS dan euro sebagai langkah perlindungan terhadap ketidakpastian ekonomi yang berkepanjangan.

“Makanan atau barang-barang lain yang harganya telah naik tiga kali lipat selama beberapa minggu dan bulan tidak akan menjadi lebih murah ketika dolar sedikit turun,” kata warga itu kepada Al Jazeera, dikutip pada Senin, 15 Juni 2026.

“Bahkan jika kesepakatan ini ditandatangani, masalah jangka panjang utama tidak akan terselesaikan,” lanjut warga itu.

Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran banyak warga yang selama bertahun-tahun menghadapi inflasi tinggi dan pelemahan daya beli akibat tekanan ekonomi yang terus berlangsung.

Halaman Selanjutnya
img_title