Warga Iran Sambut Dingin Kesepakatan AS-Iran, Keraguan Bayangi Prospek Perdamaian

Ilustrasi kesepakatan damai Iran dan Amerika Serikat.
Sumber :
  • AI

VIVA Jakarta - Kesepakatan awal antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik yang berlangsung hampir empat bulan memang disambut positif oleh publik internasional. Namun, suasana berbeda justru terlihat di Teheran. 

img_title AS Bersiap Perketat Sanksi Iran, Scott Bessent Sebut Isolasi Ekonomi Belum Pernah Terjadi

Di tengah euforia global atas tercapainya nota kesepahaman kedua negara, banyak warga Iran memilih menahan harapan dan memandang proses perdamaian dengan penuh keraguan.

Kesepakatan yang diumumkan pada Minggu itu dijadwalkan ditandatangani secara resmi pada Jumat mendatang. Salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama perang sebagian besar berada di bawah kendali Iran sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu. 

img_title Iran Tegaskan Siap Hadapi Perang Panjang dengan AS, IRGC Bicara soal Efek Jera

Langkah itu diharapkan dapat mengembalikan stabilitas pasar energi global yang sempat terguncang akibat perang.

Mengutip dari Al Jazeera, sebagai bagian dari kesepakatan, AS juga disebut akan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di wilayah selatan Iran. Kebijakan tersebut selama beberapa bulan terakhir dinilai memperburuk kondisi ekonomi Iran yang telah lama tertekan oleh berbagai sanksi internasional.

img_title Iran Beri Syarat Selat Hormuz Dibuka Lagi, Minta AS Hentikan Agresi

Meski demikian, sejumlah persoalan paling krusial justru belum menemukan titik temu. Masa depan program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, hingga nasib aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri masih belum masuk dalam penyelesaian final. 

Ilustrasi Selat Hormuz yang jadi kartu strategi Iran dalam konflik dengan Amerika Serikat.

Photo :
  • Istimewa/AI

Ketidakjelasan tersebut memunculkan keraguan di kalangan masyarakat bahwa perdamaian yang berkelanjutan benar-benar bisa terwujud.

"Saya rasa kesepakatan itu tidak memberikan manfaat besar bagi rakyat karena tidak akan benar-benar ditegakkan sepenuhnya untuk membawa stabilitas dalam kehidupan kita," kata Parisa, seorang mahasiswa di Teheran, dikutip dari Al Jazeera, Selasa, 16 Juni 2026.

"Mungkin akan berhasil untuk saat ini, tetapi kedua belah pihak akan membahayakannya berdasarkan kepentingan mereka sendiri," lanjutnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Mehdi, warga Teheran lainnya. Menurut dia, masih terlalu banyak masalah mendasar yang belum terselesaikan sehingga sulit untuk optimistis terhadap masa depan gencatan senjata tersebut.

"Saya rasa AS tidak bersedia menerima bahkan tuntutan terkecil dari Iran," ujarnya.

Bagi banyak warga Iran, ukuran keberhasilan kesepakatan tidak hanya ditentukan oleh berhentinya pertempuran. Mereka menilai pencabutan sanksi ekonomi yang selama bertahun-tahun membatasi aktivitas perdagangan dan investasi menjadi faktor utama yang akan menentukan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.

Halaman Selanjutnya
img_title