BEM Bersatu Soroti Dugaan Keterlibatan Aktor Politik dalam Aksi Penolakan MBG
- Dok. Ist
VIVA Jakarta – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu menyampaikan pandangannya terkait sejumlah aksi mahasiswa yang menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Organisasi tersebut menilai terdapat sejumlah indikasi yang perlu dicermati terkait kemungkinan keterlibatan pihak eksternal dalam rangkaian aksi tersebut.
Juru Bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, menyebut pihaknya menemukan sejumlah informasi yang menurut mereka mengarah pada dugaan adanya keterlibatan aktor politik praktis dalam gerakan penolakan MBG. Namun demikian, pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan dan hasil pengamatan internal organisasi.
“Kami melihat indikasi kuat keterlibatan aktor politik praktis dalam gerakan ini. Dugaan itu Mobil Fortuner yang digunakan Tiyo diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang merupakan besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Selain itu diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi,” kata Rahmat dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Rabu (17/6/2026).
Rahmat mengatakan, pihaknya juga mencermati sejumlah relasi dan pertemuan yang menurut mereka patut menjadi perhatian publik. Salah satunya terkait kehadiran pimpinan aksi penolakan MBG, Tiyo Ardianto, dalam sebuah forum kebangsaan yang dihadiri sejumlah tokoh nasional.
“Keterkaitan dugaan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran Tiyo Ardianto dalam Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung (18 Juni 2026) bersama sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr. Tifa. Dalam forum yang sama, Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga tercatat hadir, menunjukkan adanya jejaring yang patut dicermati,” lanjut Rahmat.
Atas dasar pengamatan tersebut, BEM Bersatu menyatakan sikap untuk menolak segala bentuk intervensi maupun kepentingan eksternal yang berpotensi memengaruhi independensi gerakan mahasiswa. Menurut mereka, gerakan mahasiswa seharusnya tetap berfokus pada penyampaian aspirasi publik dan tidak menjadi alat kepentingan kelompok tertentu.
“Kami, BEM Bersatu, menolak segala bentuk penungangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan,” pungkas Rahmat.
Hingga pernyataan ini disampaikan, pihak-pihak yang disebut dalam dugaan tersebut belum memberikan tanggapan atau klarifikasi terkait pernyataan BEM Bersatu.