Jumlah Warga Asing Korban Penipuan di Korea Selatan Naik Tajam, Wisatawan dan Penggemar K-Pop Diminta Waspada

Jual beli rekening (Foto ilustrasi).
Sumber :
  • Istimewa

VIVA Jakarta – Kasus penipuan yang menimpa warga asing di Korea Selatan menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Data terbaru dari Badan Kepolisian Nasional Korea Selatan mengungkapkan bahwa jumlah korban penipuan dari kalangan warga negara asing melonjak hampir empat kali lipat dalam kurun dua tahun.

img_title Taiwan Bidik Libur Akhir Tahun, Wisatawan Indonesia Jadi Pasar yang Makin Menggiurkan

Lonjakan tersebut terjadi seiring meningkatnya jumlah wisatawan internasional yang datang ke Korea Selatan, baik untuk berlibur, bekerja, maupun menghadiri berbagai acara hiburan dan budaya yang semakin populer di tingkat global.

Anggota parlemen Korea Selatan, Kim Joon-hwan, mengungkapkan bahwa pada 2023 jumlah warga asing yang menjadi korban penipuan tercatat sebanyak 5.307 orang. Angka tersebut meningkat menjadi 8.671 korban pada 2024. Namun peningkatan paling signifikan terjadi pada 2025 ketika jumlah korban melonjak hingga mencapai 19.907 orang.

img_title PIK 2 Jadi Magnet Baru Sport Tourism, 10 Ribu Pelari Siap Bawa Dampak Ekonomi Besar untuk Jakut

Data tersebut menunjukkan bahwa kejahatan penipuan kini menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai oleh wisatawan dan warga asing yang berada di Negeri Ginseng. Para pelaku memanfaatkan berbagai modus untuk memperoleh keuntungan dari korban yang umumnya belum memahami kondisi dan sistem transaksi di Korea Selatan.

Salah satu modus yang paling banyak ditemukan berkaitan dengan tingginya minat masyarakat dunia terhadap budaya populer Korea atau Hallyu. Popularitas grup musik K-pop, drama Korea, hingga berbagai produk hiburan lainnya dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk menjebak para penggemar dari luar negeri.

img_title RI-Korea Bangun Pusat Pengendalian Karhutla, Perkuat Antisipasi Kebakaran Hutan

Dalam banyak kasus, pelaku menawarkan tiket konser, merchandise resmi, album edisi terbatas, hingga berbagai produk eksklusif yang diklaim berkaitan dengan artis K-pop terkenal. Transaksi biasanya dilakukan melalui media sosial, forum daring, atau platform jual beli online.

Setelah korban mentransfer sejumlah uang, barang yang dijanjikan tidak pernah dikirim dan pelaku menghilang tanpa jejak. Modus semacam ini banyak menyasar penggemar internasional yang ingin mendapatkan produk langka atau akses khusus terkait idolanya.

Fenomena tersebut terlihat jelas saat berlangsungnya konser grup K-pop BTS di Kota Busan pada pertengahan Juni lalu. Berdasarkan laporan kepolisian, dari lima kasus kriminal yang melibatkan warga asing selama penyelenggaraan konser tersebut, tiga di antaranya merupakan kasus penipuan.

Halaman Selanjutnya
img_title