Laporan HAM Bongkar Rekor Kelam Israel: 54 Anak Palestina Tewas di Tepi Barat Sepanjang 2025
- Akun X UNRWA.es
VIVA Jakarta - Organisasi hak asasi manusia (HAM) asal Israel, B'Tselem merilis laporan terbaru yang menyebut tahun 2025 menjadi periode paling mematikan bagi anak-anak Palestina di Tepi Barat. Insiden memilukan itu sejak wilayah Tepi Barat diduduki Israel pada 1967.
Dalam laporan tersebut, B'Tselem mencatat sebanyak 54 anak dan remaja Palestina tewas akibat tindakan pasukan Israel sepanjang 2025. Jumlah itu menjadi yang tertinggi dalam hampir enam dekade terakhir dan dinilai mencerminkan semakin memburuknya situasi keamanan serta perlindungan terhadap warga sipil, khususnya anak-anak.
Temuan itu juga menunjukkan bahwa sejak pecahnya perang Israel-Hamas pada 7 Oktober 2023 hingga 28 Juni 2026, sebanyak 1.086 warga Palestina dilaporkan tewas di Tepi Barat.
Dari jumlah tersebut, 241 korban merupakan anak-anak, atau hampir seperempat dari seluruh korban jiwa selama periode tersebut.
B'Tselem menyatakan bahwa angka tersebut menandai peningkatan signifikan dalam penggunaan kekuatan mematikan di Tepi Barat yang diduduki.
Selain tingginya jumlah korban jiwa, organisasi tersebut mengungkap belum menemukan adanya proses hukum terhadap aparat yang diduga terlibat dalam kematian warga Palestina.
"Kami tidak mengetahui adanya satu pun dakwaan yang diajukan di Israel sejak Oktober 2023 terkait dengan pembunuhan warga Palestina di Tepi Barat, termasuk kasus yang melibatkan anak-anak," demikian pernyataan B'Tselem dalam laporannya dikutip dari Aljazeera, Selasa, 30 Juni 2026.
Tim Medis Sempat Dihalangi
Laporan itu juga menyoroti hambatan terhadap layanan medis darurat. B'Tselem menyebut bahwa dalam hampir seperempat kasus kematian anak yang mereka dokumentasikan selama 2025, pasukan Israel diduga menunda atau mencegah petugas medis mencapai korban yang terluka.
Selain itu, organisasi tersebut menyatakan Israel masih menahan jenazah 18 dari 54 anak yang tewas sepanjang tahun lalu.
Menurut B'Tselem, praktik tersebut memperburuk penderitaan keluarga korban sekaligus mempersulit proses pemakaman.
Temuan B'Tselem sejalan dengan kekhawatiran yang sebelumnya disampaikan sejumlah organisasi internasional.
Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) berulang kali menyatakan bahwa anak-anak di wilayah Palestina menjadi kelompok yang paling rentan terdampak meningkatnya kekerasan bersenjata di Tepi Barat maupun Jalur Gaza.
UNICEF menyerukan agar seluruh pihak mematuhi hukum humaniter internasional dan memberikan perlindungan khusus terhadap anak-anak.