Di Balik Jutaan Porsi Makanan Haji, Ada Pengawasan Ketat BPOM yang Jarang Diketahui
- Istimewa
VIVA Jakarta - Penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya bergantung pada kelancaran transportasi maupun akomodasi. Salah satu aspek paling krusial yang menentukan kesehatan dan kenyamanan jemaah adalah ketersediaan makanan yang aman, bergizi, dan layak konsumsi selama berada di Tanah Suci.
Tantangan tersebut menjadi semakin kompleks mengingat Indonesia setiap tahun memberangkatkan ratusan ribu jemaah. Kebutuhan pangan harus dipenuhi dalam jumlah sangat besar, terutama saat fase puncak ibadah di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Begitu pun saat cuaca ekstrem serta keterbatasan fasilitas membuat distribusi makanan menjadi pekerjaan logistik yang tidak sederhana.
Untuk memastikan setiap makanan yang dikonsumsi jemaah memenuhi standar keamanan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerapkan Program Manajemen Risiko (PMR). Penerapan PMR kepada industri pangan yang memasok kebutuhan konsumsi jemaah haji.
Melalui program tersebut, pengawasan tidak hanya dilakukan terhadap produk akhir. Tapi mencakup seluruh rantai produksi mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga pengemasan sebelum makanan dikirim ke Arab Saudi.
Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menjelaskan PMR terus berkembang dalam satu dekade terakhir dan kini diterapkan tidak hanya pada industri besar, tetapi juga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Lewat program ini kami membuat auto-control atau self-control dari industri yang kita atur dari standar keamanannya, standar gizinya, standar processing-nya, standar proses pengemasannya, dan sebagainya," jelasnya.
Menurutnya, sistem tersebut mendorong setiap pelaku industri memiliki mekanisme pengawasan internal yang berjalan secara konsisten. Dengan demikian, potensi risiko keamanan pangan dapat dicegah sejak awal, bukan hanya saat dilakukan pemeriksaan oleh regulator.
Pendekatan ini dinilai sangat penting mengingat makanan untuk jemaah haji diproduksi dalam jumlah jutaan porsi dan harus didistribusikan ke berbagai titik pelayanan di Arab Saudi.
Hanya Tujuh Industri
Sebagai bentuk penghargaan terhadap industri yang dinilai konsisten menerapkan standar keamanan pangan, BPOM memberikan apresiasi kepada tujuh perusahaan dari ribuan industri pangan yang ada di Indonesia.
Taruna menegaskan proses penilaiannya dilakukan secara ketat dengan mempertimbangkan sejumlah indikator penting.