MoU Penghentian Perang AS-Iran Rapuh, Mahfuz Sidik Prediksi Perang di Timur Tengah Masih Bisa Berlanjut

Mahfuz Sidik
Sumber :
  • Partai Gelora

VIVA Jakarta – Analis Islam dan Timur Tengah (Timteng), Mahfuz Sidik, menilai dunia pada prinsipnya menyambut baik penandatanganan Memorandung of Understanding (MoU) penghentian perang antara Amerika Serikat dengan Iran pada 16 Juni 2026 lalu. Namun satu negara yang tidak menyambut kesepakatan itu adalah Israel.

img_title JD Vance Soroti Peran Sejumlah Pejabat Israel dalam Konflik Iran, Singgung Upaya Mempengaruhi Kebijakan AS

Perjanjian damai itu difasilitasi oleh Pakistan. Penolakan oleh Israel, menurutnya disampaikan secara terbuka.

Itu ditegaskan Mahfuz, dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Prospek MoU Islamabad: Damai Permanen atau Perang Babak Baru?’.

img_title AS Berlakukan Lagi Blokade Iran di Selat Hormuz, Trump Usulkan Tarif Keamanan 20 Persen untuk Kapal Kargo

“Seluruh negara-negara di dunia menyambut dengan baik terhadap kesepakatan ini, kecuali satu negara saja yang sejak awal melakukan penolakan secara terbuka. Negara itu adalah Israel,” kata Mahfuz.

Maka tidak heran, pasca MoU ditandatangani dan disepakati, masih ada pelanggaran perjanjian. Jelas Sekjen Partai Gelora itu, pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut masih terjadi.

img_title Kisah di Balik Kapal Jepang yang Diizinkan Melintasi Selat Hormuz, Iran Ungkap Hubungan Bersejarah Sejak 1953

“Sebagai pihak yang terlibat dalam MoU ini, Israel palng banyak melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan ini,” katanya.

Di dalam negeri AS sendiri, publik lebih menginginkan penghentian perang dengan Iran, dilanjutkan negosiasi atau pembicaraan menuju kesepakatan final melalui MoU untuk saling pengertian, saling memahami untuk penghentian perang melalui satu kesepakatan.

Maka dalam hal ini, Presiden Donald Trump, menurutnya mendapat tekanan dari dua pihak yakni internal dan dunia internasional, yang menginginkan perang dihentikan. Mengingat imbas dari perang ini adalah ketidakpastian geopolitik global hingga krisis yang makin dalam.

“Sehingga Senat Amerika Serikat meloloskan Resolusi Kewenangan Perang (War Powers Resolution) untuk membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam melancarkan aksi militer lanjutan terhadap Iran,” katanya.

Prospek MoU AS-Iran

Walau ada nota kesepamahan, tetapi apakah dapat mengantarkan perdamaian antara AS, Israel dengan Iran, hingga kini masih menjadi pertanyaan publik internasional. Apakah dapat mengantarkan menuju perdamaian atau justru membuka babak baru perang di kawasan tersebut.

Mahfuz yang lama memimpin Komisi I DPR RI (termasuk membidangi luar negeri), mengungkapkan bahwa ada 14 poin MoU tersebut yang disepakati. Pada intinya, AS mengakomodasi semua permintaan Iran dalam proposalnya.

“Kesepakatan ini memang  cukup mengejutkan ketika Amerika Serikat dalam perundingan ini melakukan pressure,  bukan hanya pressure by diplomacy, tapi pressure by power ya pada akhirnya itu mengakomodasi keseluruhan proposal dari Iran. Ini mengundang tanda tanya? katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title