MoU Penghentian Perang AS-Iran Rapuh, Mahfuz Sidik Prediksi Perang di Timur Tengah Masih Bisa Berlanjut
- Partai Gelora
VIVA Jakarta – Analis Islam dan Timur Tengah (Timteng), Mahfuz Sidik, menilai dunia pada prinsipnya menyambut baik penandatanganan Memorandung of Understanding (MoU) penghentian perang antara Amerika Serikat dengan Iran pada 16 Juni 2026 lalu. Namun satu negara yang tidak menyambut kesepakatan itu adalah Israel.
Perjanjian damai itu difasilitasi oleh Pakistan. Penolakan oleh Israel, menurutnya disampaikan secara terbuka.
Itu ditegaskan Mahfuz, dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Prospek MoU Islamabad: Damai Permanen atau Perang Babak Baru?’.
“Seluruh negara-negara di dunia menyambut dengan baik terhadap kesepakatan ini, kecuali satu negara saja yang sejak awal melakukan penolakan secara terbuka. Negara itu adalah Israel,” kata Mahfuz.
Maka tidak heran, pasca MoU ditandatangani dan disepakati, masih ada pelanggaran perjanjian. Jelas Sekjen Partai Gelora itu, pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut masih terjadi.
“Sebagai pihak yang terlibat dalam MoU ini, Israel palng banyak melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan ini,” katanya.
Di dalam negeri AS sendiri, publik lebih menginginkan penghentian perang dengan Iran, dilanjutkan negosiasi atau pembicaraan menuju kesepakatan final melalui MoU untuk saling pengertian, saling memahami untuk penghentian perang melalui satu kesepakatan.
Maka dalam hal ini, Presiden Donald Trump, menurutnya mendapat tekanan dari dua pihak yakni internal dan dunia internasional, yang menginginkan perang dihentikan. Mengingat imbas dari perang ini adalah ketidakpastian geopolitik global hingga krisis yang makin dalam.
“Sehingga Senat Amerika Serikat meloloskan Resolusi Kewenangan Perang (War Powers Resolution) untuk membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam melancarkan aksi militer lanjutan terhadap Iran,” katanya.
Prospek MoU AS-Iran
Walau ada nota kesepamahan, tetapi apakah dapat mengantarkan perdamaian antara AS, Israel dengan Iran, hingga kini masih menjadi pertanyaan publik internasional. Apakah dapat mengantarkan menuju perdamaian atau justru membuka babak baru perang di kawasan tersebut.
Mahfuz yang lama memimpin Komisi I DPR RI (termasuk membidangi luar negeri), mengungkapkan bahwa ada 14 poin MoU tersebut yang disepakati. Pada intinya, AS mengakomodasi semua permintaan Iran dalam proposalnya.
“Kesepakatan ini memang cukup mengejutkan ketika Amerika Serikat dalam perundingan ini melakukan pressure, bukan hanya pressure by diplomacy, tapi pressure by power ya pada akhirnya itu mengakomodasi keseluruhan proposal dari Iran. Ini mengundang tanda tanya? katanya.