Polisi Jepang Perketat Pemantauan Media Sosial, Fokus Cegah Serangan Pelaku Tunggal

Ilustrasi Tokyo Jepang
Sumber :
  • VIVA

VIVA Jakarta – Kepolisian Jepang semakin serius mengawasi aktivitas media sosial untuk mendeteksi potensi ancaman keamanan sejak dini. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mencegah serangan yang dilakukan oleh lone offender atau pelaku tunggal, yakni individu yang bertindak sendiri tanpa terafiliasi dengan organisasi teroris.

img_title Survei Ipsos 2026: Keamanan Jadi Alasan Utama Masyarakat Memilih Bank Digital

Dilansir laman Jepang The Mainichi, perhatian terhadap ancaman semacam ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah insiden penembakan mantan Perdana Menteri Shinzo Abe pada 2022 dan serangan terhadap mantan Perdana Menteri Fumio Kishida pada 2023. Dua peristiwa tersebut mendorong aparat keamanan Jepang memperkuat sistem deteksi dini terhadap individu yang menunjukkan tanda-tanda radikalisasi atau niat melakukan kekerasan.

 
img_title Rencana Serangan Acak di Tokyo Berhasil Digagalkan, Polisi Jepang Tangkap Pria yang Diduga Akan Bunuh Warga Secara Acak

Unggahan Media Sosial Jadi Titik Awal Penyelidikan

Salah satu contoh yang diungkap Badan Kepolisian Nasional Jepang (NPA) melibatkan seorang perempuan berusia 40-an di Tokyo yang menggunakan nama samaran Kaori Ueno. Pada masa kampanye pemilu Majelis Rendah Jepang, petugas dari Kepolisian Yoyogi mendatangi rumahnya setelah menemukan sejumlah unggahan bernada ancaman di platform X.

img_title Ingin Tidur Lebih Nyenyak? Kurangi Main Gadget Sebelum Tidur, Pakar Ungkap Manfaat Digital Detox

Dalam unggahan tersebut, ia menuliskan kemarahan terhadap situasi politik dan menggunakan kata-kata ekstrem yang menyebut bom molotov serta aksi bakar diri sebagai bentuk protes. Meski kemudian mengaku tidak berniat melakukan kekerasan dan hanya meluapkan emosi, polisi tetap menilai unggahan itu perlu ditindaklanjuti karena muncul di tengah periode pemilu.

Ueno mengaku terkejut ketika aparat berhasil menemukan identitasnya, sebab akun yang digunakannya bersifat anonim dan tidak mencantumkan nama asli.

 

Teknologi AI Digunakan untuk Patroli Siber

Menurut penjelasan NPA, unggahan tersebut pertama kali terdeteksi oleh Kepolisian Prefektur Shizuoka saat melakukan patroli siber. Setelah dianalisis lebih lanjut, penyelidik menelusuri riwayat unggahan dan menemukan foto kendaraan yang diderek. Dari latar belakang foto, polisi berhasil mengidentifikasi lokasi di Kota Kofu dan akhirnya menemukan identitas pemilik akun.

Kasus ini menunjukkan bagaimana aparat Jepang kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat pengawasan dunia maya. Teknologi tersebut digunakan untuk memindai kata-kata kunci yang berkaitan dengan ancaman kekerasan, bahan peledak, maupun serangan terhadap pejabat negara.

Halaman Selanjutnya
img_title