AS Serang Iran Lagi, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak Usai Ketegangan di Selat Hormuz
- Istimewa/AI
VIVA Jakarta - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran. Serangan AS itu sebagai respons atas dugaan penyerangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Aksi AS itu memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran strategis dunia dan mendorong kenaikan harga minyak global.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan operasi militer itu pada Selasa waktu setempat. Washington menegaskan serangan dilakukan sebagai balasan atas insiden yang menimpa tiga kapal komersial di Selat Hormuz yang dituding dilakukan oleh Iran.
“Pasukan Komando Pusat AS telah mulai melancarkan serangkaian serangan dahsyat terhadap Iran untuk memberikan kerugian besar atas penargetan dan penyerangan terhadap kapal-kapal komersial,” kata pernyataan militer AS dikutip pada Rabu, 8 Juli 2026.
Dalam pernyataan yang sama, militer AS juga menuduh Iran melanggar kesepakatan penghentian konflik.
“Agresi Iran yang ditunjukkan tidak beralasan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata.”
Target Serangan Belum Diungkap
Hingga kini, pemerintah AS belum mengungkap secara rinci sasaran operasi militer tersebut. Namun, sejumlah media Iran melaporkan sedikitnya enam proyektil menghantam kawasan dermaga Taheroui di Sirik, wilayah selatan Iran.
Apabila laporan tersebut terkonfirmasi, serangan itu menjadi aksi militer AS pertama yang diketahui terhadap Iran sejak rangkaian saling serang kedua negara berakhir pada akhir bulan lalu.
Perkembangan terbaru ini memperlihatkan bahwa situasi keamanan di kawasan masih sangat rapuh. Hal itu terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.
Harga Minyak Langsung Melonjak
Eskalasi konflik langsung memengaruhi pasar energi global. Saat perdagangan dibuka pada Rabu, harga minyak mentah dunia bergerak naik karena investor mengantisipasi potensi terganggunya pasokan dari Timur Tengah.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), salah satu patokan utama harga minyak dunia, tercatat naik sekitar 2,63 persen menjadi 72,29 dolar AS per barel. Sehari sebelumnya, kontrak minyak acuan AS juga telah menguat 2,76 persen.
Lonjakan harga tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko gangguan distribusi energi apabila ketegangan di Selat Hormuz terus memburuk.