Merajut Asa di Lekukan Enang-Enang: Dari Jembatan Swadaya Menuju Ikon Baru Peradaban Gayo
- Istimewa
VIVA – Di lekukan curam jalan nasional Bireuen–Takengon, terdapat sebuah kawasan bernama Tajuk Enang-Enang. Bagi sebagian orang, ia mungkin sekadar jalur berkelok yang memacu adrenalin. Namun bagi masyarakat Gayo di Bener Meriah, Enang-Enang adalah monumen hidup yang menyimpan memori kolektif tentang air mata, kerja paksa era kolonial, dan perjuangan bertahan hidup.
Ketika banjir bandang dan longsor hebat pada akhir tahun 2025 memutus urat nadi transportasi tersebut, ketidakpastian sempat menggelayuti kawasan Pintu Rime Gayo. Di tengah kekosongan informasi dan lambatnya gerak birokrasi, lahirlah sebuah gerakan yang digerakkan oleh satu hal purba: ketulusan.
Adalah Syahrial, seorang warga lokal yang memelopori gerakan gotong royong secara swadaya untuk membuka kembali akses jalan dan jembatan di Enang-Enang dengan dana donasi masyarakat yang menembus angka fantastis, 1 miliar rupiah. Namun, ketulusan warga sempat membentur dinding regulasi. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh mengkhawatirkan aspek keselamatan karena menilai struktur darurat tersebut belum stabil, bahkan sempat memunculkan polemik rencana penutupan jalan yang memicu kekecewaan luas dari masyarakat.
Di titik kritis inilah, negara hadir bukan dengan keangkuhan otoritas, melainkan dengan pendekatan yang memanusiakan manusia. Sentuhan humanis dan taktis itu mewujud pada sosok Safrizal ZA, Kepala Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Aceh.
Sebagai putra asli daerah sekaligus mantan Pj Gubernur Aceh, kredibilitas Safrizal dalam memahami denyut nadi sosiologis masyarakat Serambi Mekkah tidak perlu diragukan lagi. Pengalaman menakhodai Aceh membuat pria yang kini dipercaya mendampingi Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas PRR Sumatera, Tito Karnavian, ini membawa perspektif yang melampaui kekakuan sekat birokrasi.
Bagi Safrizal, Tajuk Enang-Enang bukan sekadar titik koordinat bencana atau angka-angka teknis di atas kertas cetakan Balai Jalan. Sebagai sosok yang pernah memimpin provinsi ini, ia paham betul lapis-lapis memori kolektif yang tertanam di lekukan curam tersebut.
Kaposwil Satgas PRR Aceh Safrizal mendampingi Mendagri Tito Karnavian di Tajuk Enang-Enang.
- Istimewa
Dalam ingatan kulturalnya, Enang-Enang adalah monumen hidup yang sarat akan luka peradaban—menyimpan gema pilu dari abad ke-20 ketika ribuan masyarakat Gayo dipaksa memeras keringat, bertaruh nyawa, hingga menjadi korban kerja paksa (kerja rodi) kolonial Belanda demi membelah tebing batu yang curam sejak jembatan pertamanya berdiri tahun 1911. Kawasan ini juga menjadi saksi sejarah betapa angker dan terisolasinya jalur maut ini di masa-masa pergolakan konflik masa lalu.