Berawal dari Ajakan Tawuran, Pelajar Tewas dalam Bentrokan Berdarah Antargeng di Pancoran
- Istimewa/AI
VIVA Jakarta - Polisi mengungkap kasus tawuran antarkelompok remaja di Jalan Rawajati Timur Raya, Pancoran, Jakarta Selatan, yang menewaskan seorang pelajar berinisial MFR. Polisi mengamankan empat orang yang diduga terlibat dalam aksi saling serang menggunakan senjata tajam.
Insiden berdarah itu terjadi pada Minggu (14/6) sekitar pukul 04.50 WIB. Korban mengalami luka serius akibat sabetan senjata tajam dan dinyatakan meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit.
"Untuk korban anak dengan inisial MFR. Kerugiannya adalah luka yang mengakibatkan kematian akibat senjata tajam," kata Kanit Ranmor Polres Metro Jakarta Selatan AKP Teddy Rohendi, Kamis, 9 Juli 2026.
Kasus tersebut tercatat dalam LP Model A/4/VI/2026/SPKT/Unit Krimum/Polsek Pancoran/Polres Metro Jakarta Selatan tertanggal 14 Juni 2026.
Berawal Saat Korban Sedang Ngopi
Dari hasil penyelidikan, sebelum insiden terjadi MFR bersama sejumlah rekannya tengah berkumpul di kawasan Tanjakan Cililitan Kecil. Mereka menghabiskan waktu dengan minum kopi dan merokok pada dini hari.
Tak lama kemudian, sekelompok remaja yang disebut sebagai tim Salak datang menghampiri dan mengajak kelompok korban untuk melakukan tawuran.
Salah seorang anggota tim Salak yang tidak dikenal kemudian memberikan senjata tajam berupa celurit berwarna kuning kepada kelompok korban. Setelah itu, mereka berboncengan menggunakan sepeda motor menuju lokasi bentrokan di Jalan Rawajati Timur Raya.
Setibanya di lokasi sekitar pukul 04.48 WIB, kelompok korban yang terdiri atas tim Cililitan dan tim Salak telah berhadapan dengan kelompok lawan, yakni tim Kujang Mampang dan tim Motekar.
Menurut polisi, bentrokan melibatkan sekitar 20 orang dari kubu tim Cililitan dan tim Salak, sementara kelompok lawan diperkirakan berjumlah lebih dari 30 orang.
Begitu sampai di lokasi sekitar pukul 04.48 WIB, kelompok tim Cililitan dan tim Salak yang diperkirakan berjumlah sekitar 20 orang berhadapan dengan kelompok lawan.
"Yaitu tim Kujang Mampang dan tim Motekar, yang diperkirakan berjumlah lebih dari 30 orang," kata dia.
Tak lama berselang, kedua kelompok terlibat aksi saling serang menggunakan berbagai senjata tajam, termasuk celurit.
Di tengah bentrokan, seorang saksi berinisial GS melihat korban MFR berlari meninggalkan lokasi dalam kondisi berlumuran darah sebelum akhirnya dibonceng rekannya menuju rumah sakit.