Kisah di Balik Kapal Jepang yang Diizinkan Melintasi Selat Hormuz, Iran Ungkap Hubungan Bersejarah Sejak 1953
- WANA
VIVA Jakarta – Di tengah ketegangan yang memanas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, sebuah kapal tanker minyak asal Jepang menjadi sorotan dunia setelah menjadi satu-satunya kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz. Keputusan tersebut ternyata tidak hanya didasarkan pada pertimbangan keamanan, tetapi juga dipengaruhi oleh sejarah panjang hubungan persahabatan antara Iran dan Jepang yang telah terjalin lebih dari 70 tahun.
Duta Besar Iran untuk Jepang, Peyman Saadat, mengungkapkan bahwa izin bagi kapal tanker Idemitsu Maru melintasi Selat Hormuz berkaitan erat dengan peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai Insiden Nissho Maru pada 1953. Menurutnya, momen tersebut menjadi simbol hubungan saling percaya antara kedua negara yang masih dikenang hingga saat ini.
Pernyataan itu disampaikan setelah Kedutaan Besar Iran di Jepang mengunggah pesan melalui akun resmi media sosial X yang menyebut pelayaran kapal Jepang tersebut sebagai misi bersejarah sekaligus bukti eratnya hubungan bilateral kedua negara. Unggahan itu mendapat perhatian luas dan ditonton jutaan kali.
Selat Hormuz Sempat Lumpuh Akibat Konflik
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat tajam setelah pecah konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada akhir Februari 2026.
Situasi tersebut berdampak langsung pada Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu titik terpenting distribusi minyak dunia. Iran kemudian membatasi lalu lintas kapal di kawasan itu sehingga banyak kapal tanker dari berbagai negara tertahan di Teluk Persia.
Terganggunya distribusi minyak menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak karena kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Di tengah pembatasan tersebut, kapal tanker Idemitsu Maru milik perusahaan Jepang Idemitsu Kosan menjadi satu-satunya kapal yang diberikan izin untuk melintasi Selat Hormuz.
Warisan Sejarah yang Masih Dihormati
Saadat menjelaskan bahwa keputusan Iran tidak terlepas dari sejarah hubungan kedua negara yang bermula pada awal 1950-an.
Saat itu Iran tengah menghadapi tekanan internasional setelah pemerintah memutuskan menasionalisasi industri minyaknya pada 1951. Kebijakan tersebut memicu perselisihan dengan Inggris yang saat itu memiliki pengaruh besar terhadap industri minyak Iran.