Skenario Konflik di Timur Tengah, Kekuatan AS Bakal Lumpuh oleh Iran?
- Partai Gelora
VIVA Jakarta – Analis dunia Islam di Timur Tengah yang juga Sekjen Partai Gelora, Mahfuz Sidik, mengatakan bahwa konflik yang makin memanas saat ini di Timur Tengah, lantaran sejak awal Presiden Amerika Serikat Donald Trump, tidak punya atensi sungguh-sungguh untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Saat ini, Iran kembali melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan AS di kawasan pasca serangan yang dilakukan negara tersebut. Walau sudah ada perjanjian nota kesepamahan atau memorandum of understanding (MoU) penghentian perang yang ditandatangani kedua negara, AS dan Iran, sebelumnya.
“Trump pada akhirnya masuk dan menandatangani MOU itu lebih untuk mengatasi situasi politik domestik yang tidak menguntungkan dirinya,” ujar Mahfuz, dalam keterangannya yang diterima VIVA Jakarta.
Jelas dia, mayoritas publik AS tidak mendukung perang terhadap Iran. Senat hingga Kongres juga menolak memberi persetujuan tindakan perang yang diambil Presiden Trump. Kondisi tersebut, membuatnya terpaksa menandatangani MoU yang ditolak Israel tersebut.
Lanjut Mahfuz, sebab itulah negosiasi akhir dari MoU ini tidak pernah terwujud. Sebab baik AS maupun Israel, punya target menuntaskan perang pada 10 September mendatang sehingga situasi perang ini akan terus berlanjut.
“Karena taget-target yang belum tercapai selama ini, Amerika akan mengerahkan kekuatan militernya secara besar-besaran . Perang jilid I, Amerika gagal. Perang jilid II masih berlangsung sepanjang negosiasi, dan sekarang masuk Perang jilid III,” jelas politisi yang pernah menjadi Ketua Komisi I DPR RI itu.
Lanjut Mahfuz, perang Jilid III ini akan dibantu oleh Israel dan sekutu yang berada di kawasan teluk. Mereka punya ambisi mengalahkan Iran, lantaran dianggap mengganggu keamanan mereka.
“Perang Jilid III ini akan menjadi perang eksistensial bagi Iran. Trump tetap menjadikan perang ini sebagai alat penekan terhadap Iran untuk mencapai target-target yang belum tercapai,” katanya.
Menurutnya, Trump ingin kekuatan militer Iran lumpuh. Baik itu persenjataannya seperti rudal balistik, kekuatan radarnya, serta kekuatan industri drone yang dimiliki Iran. Selain itu, menurut Mahfuz, Trump juga ingin instalasi pengayaan uranium Iran hancur. Termasuk instalasi nuklir untuk keperluan sipil yang beroperasi di negara tersebut.