Selat Hormuz Belum Dibuka hingga 2027, Ekonomi Inggris Bisa Masuk Resesi

Ilustrasi Kapal minyak di Selat Hormuz
Sumber :
  • Myedisi.com

VIVA Jakarta – Inggris menghadapi ancaman perlambatan ekonomi serius jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung hingga 2027. Penutupan jalur perdagangan strategis tersebut diperkirakan dapat memicu kenaikan harga minyak dan energi yang pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi Inggris.

img_title MedcoEnergi Catat Kinerja Kuat di Semester I 2026: Produksi Migas Naik 19%, Porsi EBT Capai 26%

Mengacu pada laporan The Independent yang mengutip analisis perusahaan konsultan EY, ekonomi Inggris berpotensi masuk ke dalam kondisi resesi apabila Selat Hormuz belum kembali terbuka pada awal atau paling lambat pertengahan 2027.

Dalam skenario tersebut, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Inggris diperkirakan hanya mencapai 0,5 persen sepanjang 2026. Kondisi kemudian memburuk pada 2027, ketika ekonomi diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 0,2 persen.

img_title Gemura Ajak Anak Muda Tinggalkan Perang Opini di Medsos dan Fokus Bangun Masa Depan

Tekanan terhadap perekonomian juga diperkirakan datang dari inflasi. EY memperkirakan tingkat inflasi Inggris dapat mencapai 6,4 persen pada penghujung 2026 apabila gangguan di Selat Hormuz terus berlangsung. Lonjakan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya harga minyak dan biaya energi.

Selat Hormuz memiliki peran penting dalam distribusi energi dunia. Jalur yang berada di antara Iran dan Oman tersebut menjadi salah satu rute utama bagi lalu lintas kapal pengangkut minyak dan berbagai komoditas energi. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat meningkatkan biaya pengiriman sekaligus mendorong harga energi di pasar internasional.

img_title Iran Klaim Serang Tiga Kapal Tanker di Selat Hormuz, Kapal Terkait AS Juga Jadi Sasaran

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang memperburuk situasi di kawasan tersebut. Pada 8 Juli, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran yang sebelumnya ditandatangani pada 18 Juni sudah tidak berlaku. Pernyataan itu kemudian diikuti dengan kembali dilancarkannya serangan Amerika Serikat terhadap Iran.

Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Teheran juga mengambil langkah untuk memblokade Selat Hormuz serta menuding Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Apabila ketegangan terus berlanjut dan jalur pelayaran tersebut tetap terganggu hingga tahun depan, dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi. Harga energi yang tinggi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi, sekaligus mengurangi daya beli masyarakat.

Halaman Selanjutnya
img_title