TNI Gelar Rise The Ranger 2, Kompetisi Siber Berhadiah Golden Ticket Jadi Prajurit
- Dok. Satsiber TNI
VIVA Jakarta – Upaya memperkuat ketahanan dan kedaulatan ruang digital nasional terus dilakukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) melalui pengembangan sumber daya manusia di bidang keamanan siber.
Salah satunya diwujudkan lewat penyelenggaraan kompetisi Rise The Ranger 2 yang digelar pada Agustus 2026 sebagai ajang menjaring talenta-talenta terbaik di bidang siber.
Kompetisi yang diselenggarakan Satuan Siber TNI (Satsiber TNI) tersebut tidak hanya menjadi arena menguji kemampuan teknis peserta, tetapi juga membuka kesempatan bagi peserta terbaik untuk bergabung sebagai Prajurit Karier (PK) Khusus Siber TNI.
Mengusung tema “Berkolaborasi Menjaga Kedaulatan & Melindungi Bangsa di Ruang Siber”, Rise The Ranger 2 terbuka bagi mahasiswa maupun masyarakat umum yang memiliki minat dan kompetensi di bidang keamanan siber.
Komandan Satsiber TNI Brigadir Jenderal TNI J.O. Sembiring mengatakan Rise The Ranger 2 dirancang sebagai sarana pembinaan sekaligus pengujian kemampuan teknis generasi muda di bidang siber.
“Salah satu daya tarik utama dalam penyelenggaraan tahun ini adalah kesempatan bagi peserta terbaik untuk memperoleh Golden Ticket menjadi Perwira maupun Bintara TNI melalui jalur penerimaan Prajurit Karier (PK) Khusus Siber Tahun Anggaran 2026,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Kamis (7/8).
Penyelenggaraan Rise The Ranger 2 dilakukan di tengah meningkatnya dinamika ancaman siber yang semakin kompleks, mulai dari serangan terhadap infrastruktur informasi vital, kejahatan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga ancaman kebocoran data strategis.
Pada kompetisi tahun ini, peserta akan diuji melalui tiga kategori utama, yakni Digital Forensic, Attack Defense, dan Incident Response.
Ketiga kategori tersebut dirancang secara komprehensif. Selain menghadirkan tantangan pemecahan persoalan keamanan siber melalui skema Capture The Flag (CTF), peserta juga akan mengikuti simulasi pertahanan ruang siber yang menyerupai kondisi nyata. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara teori yang dipelajari di dunia akademik dengan kebutuhan riil pertahanan negara maupun industri.
TNI berharap kompetisi ini mampu melahirkan generasi baru praktisi keamanan siber yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga menjunjung tinggi integritas moral serta kesadaran hukum.