Embung Dekat Warga, Cadangan Air Tetap Terjaga Saat Musim Kemarau

Embung Lapangan Merah di Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Sumber :
  • Dok. Ist

VIVA Jakarta Ancaman kekeringan yang berpotensi meningkat pada musim kemarau 2026 mendorong pemerintah memperkuat infrastruktur penyediaan air di sejumlah daerah. Embung menjadi salah satu andalan untuk menyimpan cadangan air sekaligus menjaga kebutuhan masyarakat dan pertanian ketika curah hujan menurun.

img_title Mitigasi Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemkot Jakut Semprot Jalan Yos Sudarso

Bagi masyarakat di wilayah rawan kekeringan, keberadaan embung dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber air yang semakin terbatas. Air hujan dan aliran permukaan yang sebelumnya terbuang dapat ditampung, disimpan, kemudian dimanfaatkan saat ketersediaan air mulai menurun.

Manfaat embung mencakup berbagai aspek kehidupan. Bagi keluarga, ketersediaan air yang lebih dekat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi petani dan peternak, tampungan air dapat menjaga keberlangsungan kegiatan produktif. Sementara bagi fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, dan layanan kesehatan, pasokan air yang lebih andal membantu pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.

img_title El Nino Mengintai Jakarta hingga 2027, Warga Diminta Waspada Kekeringan dan Kebakaran

Kebutuhan memperkuat cadangan air semakin penting menghadapi potensi El Niño pada 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan curah hujan di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan berada di bawah normal pada periode Juli–Oktober 2026. Kondisi tersebut berpotensi menekan ketersediaan air dan produktivitas pertanian.

“Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Niño, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dikutip Minggu (9/8)

img_title Dampak El Nino Lumpuhkan Jalur Logistik, Kogabwilhan III Kirim 12,5 Ton Beras ke Yahukimo

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani

Photo :
  • Dok. Ist

Salah satu upaya memperkuat kesiapsiagaan tersebut dilakukan melalui pembangunan Embung Bantas di Desa Baturinggit, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali. Kecamatan Kubu selama ini menghadapi keterbatasan sumber air, terutama ketika musim kemarau berlangsung.

Embung Bantas dirancang memiliki kapasitas tampung sekitar 14.664 meter kubik dengan debit layanan lima liter per detik. Infrastruktur tersebut diproyeksikan meningkatkan layanan penyediaan air baku bagi masyarakat Desa Baturinggit dan wilayah sekitarnya.

Pejabat Pembuat Komitmen Penyediaan Air Baku BWS Bali Penida, I Gusti Ayu Putu Wahyundari, menjelaskan pembangunan Embung Bantas diarahkan untuk menjaga ketahanan air sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya air secara optimal.

Halaman Selanjutnya
img_title