Jambi Siapkan 81 Posko Karhutla, Pencegahan Diperkuat Jelang Puncak Kemarau 2026
- ANTARA/HO
VIVA – Pemerintah Provinsi Jambi menyiapkan sebanyak 81 posko di sejumlah wilayah yang dinilai rawan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Keberadaan posko tersebut diharapkan dapat mempercepat pemantauan, pelaporan hingga penanganan apabila muncul indikasi kebakaran selama periode puncak musim kemarau 2026.
Ketua Sekretariat Bersama Pengelolaan Sumber Daya Hutan (SEKBER PSDH) Provinsi Jambi, Feri Irawan, mengatakan keberadaan posko harus diperkuat dengan sistem komunikasi dan pemantauan yang berjalan efektif. Menurutnya, posko tidak boleh sekadar menjadi lokasi berkumpulnya personel, tetapi harus berfungsi sebagai pusat informasi sekaligus komando respons cepat.
“Posko jangan hanya menjadi tempat berkumpulnya personel. Posko harus menjadi pusat komando informasi dan respons cepat. Begitu ada indikasi kebakaran, informasi harus bergerak cepat dan petugas segera melakukan verifikasi lapangan,” ujar Feri, Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurut Feri, alur informasi terkait potensi kebakaran harus dapat berjalan dengan cepat, mulai dari tingkat desa hingga posko induk. Dengan sistem tersebut, laporan mengenai asap, titik api maupun kondisi lahan yang mulai mengering dapat segera ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi kebakaran besar.
Pengalaman Karhutla Jambi Jadi Pelajaran
Feri mengingatkan pentingnya mengambil pelajaran dari kejadian kebakaran hutan dan lahan pada tahun-tahun sebelumnya. Data menunjukkan bahwa luas karhutla di Jambi mengalami peningkatan signifikan dalam kurun waktu tersebut.
Pada 2023, luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi tercatat sekitar 1.055 hektare. Angka tersebut kemudian meningkat tajam pada 2024 menjadi sekitar 6.797 hektare.
Besarnya luasan lahan yang terbakar menjadi pengingat bahwa langkah pencegahan tidak dapat menunggu sampai puncak musim kemarau tiba. Upaya mitigasi harus dilakukan lebih awal, terutama ketika kondisi cuaca mulai memasuki periode kering.
“Besarnya luasan tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum memasuki periode puncak kemarau,” jelas Feri.
Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor dan menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar apabila tidak segera dikendalikan.
Dampak Karhutla Menyentuh Berbagai Sektor
Dari sisi ekonomi, karhutla dapat menyebabkan kerusakan tanaman dan lahan produktif, mengganggu kegiatan pertanian, serta menimbulkan biaya besar untuk proses pemadaman. Masyarakat dan dunia usaha juga dapat mengalami kerugian akibat terganggunya aktivitas ekonomi di wilayah terdampak.