Hari Gajah Sedunia, Pemerintah Perkuat Perlindungan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera
- Dok. Ist
VIVA Jakarta – Pemerintah memperkuat upaya perlindungan Gajah Sumatera dengan meluncurkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatera. Dokumen tersebut diharapkan menjadi pedoman bersama untuk menjaga populasi sekaligus habitat satwa yang menghadapi tekanan akibat perubahan habitat dan konflik dengan manusia.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meluncurkan SRAK Gajah Sumatera di Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, Rabu (12/8/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Gajah Sedunia. Ia menekankan agar strategi tersebut tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan.
Menhut Raja Juli Antoni melakukan pengecekan ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga dan PLG Minas di Provinsi Riau.
- Dok. Ist
Menurut Raja Juli, konservasi gajah membutuhkan pendekatan yang konsisten serta keterlibatan berbagai pihak. Perlindungan satwa dan habitatnya, kata dia, juga membutuhkan kepedulian terhadap keberlangsungan makhluk hidup.
“Kita bareng-bareng kawal nih, supaya dia tidak menjadi dokumen yang hanya bersifat teoritis, tapi ini executable ya. Bisa dieksekusi di bawah, konsisten, istiqomah ya, untuk menjalankan strategi ini. Terus kita bekerjasama demi memperbaiki populasi ini, populasi dan habitat Gajah Sumatera dan Kalimantan,” ujar Menhut Raja Antoni.
Ia menyebut tantangan konservasi gajah semakin kompleks. Dari sebelumnya terdapat sekitar 42 kantong gajah, jumlah tersebut kini disebut tersisa 21 kantong. Kondisi itu menjadi salah satu alasan pemerintah memperkuat strategi dan rencana aksi konservasi.
Raja Juli juga menyampaikan komitmen Presiden Prabowo Subianto terhadap perlindungan populasi dan habitat Gajah Sumatera. Komitmen tersebut antara lain diwujudkan melalui Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di Aceh serta penerbitan Inpres 8/2026 tentang Percepatan Perlindungan dan Penyelamatan Populasi serta Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan.
“Bapak Presiden Prabowo beliau punya pesan yang sama dengan kita, saya merasa sangat konkret sekali terutama untuk gajah ini ya. Pertama ada inisiatif di Pesangan Aceh ya, yang sudah berjalan dengan teman-teman WWF luar biasa. Kemudian dalam perjalanannya kita minta Inpres, terbit Inpres ini, beliau sangat mendukung,” ujar Raja Antoni.
Upaya memperkuat koeksistensi antara manusia dan gajah juga dilakukan di Way Kambas. Pemerintah mendorong pembangunan pagar dengan panjang lebih dari 100 kilometer sebagai salah satu langkah untuk mengurangi konflik yang selama ini berdampak pada lahan pertanian dan perkebunan, termasuk risiko terhadap keselamatan masyarakat.