Wamen Fajar Tegaskan Pidato Presiden Prabowo Adalah Pandangan Utuh Pembangunan Manusia
- Kemendikdasmen
VIVA Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengatakan Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo dalam sidang bersama MPR/DPR dan DPD pada Jumat kemarin menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-81, menunjukkan pandangan utuh pembangunan manusia. Melalui kebijakan-kebijakan yang sudah dilaksanakan, dari pemenuhan gizi dan kesehatan, sampai pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu.
“Presiden Prabowo Subianto menunjukkan pandangan yang utuh tentang pembangunan manusia. Anak-anak harus memperoleh gizi yang cukup, tumbuh sehat, belajar di sekolah yang layak, dan mendapatkan pendidikan bermutu. Dari fondasi itulah negara membuka jalan bagi mereka untuk mencapai cita-cita,” ujar Fajar, dalam keterangannya, dikutip Sabtu 15 Agustus 2026.
Wamen Fajar mengambil contoh pada kisah Kristina Beno, yang akhirnya merasakan manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kristina Beno adalah siswi kelas VI SD dari Merauke, Papua Selatan. Menurutnya, Kristina mewakili jutaan anak yang terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan kehadiran negara melalui kebijakannya seperti MBG ini.
“Kristina mewakili jutaan anak Indonesia yang menyimpan mimpi besar. Tempat seorang anak dilahirkan tidak boleh menjadi batas masa depannya. Pemerintah di bawah arahan Bapak Presiden Prabowo kini terus hadir sejak kebutuhan dasarnya dipenuhi hingga ia mampu menggapai cita-cita tertinggi,” kata Fajar.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa sebanyak 16.167 satuan pendidikan menerima bantuan revitalisasi pada 2025. Pada 2026, cakupannya meningkat menjadi 71.774 satuan pendidikan, termasuk sekolah di Miangas, salah satu pulau terluar Indonesia.
Pemerintah juga mempercepat digitalisasi pembelajaran melalui penyediaan papan interaktif digital (PID). Pada 2025, pemerintah menyediakan satu perangkat untuk setiap sekolah. Pada 2026, dukungan tersebut ditingkatkan menjadi tiga perangkat untuk setiap sekolah.
Revitalisasi dan digitalisasi pembelajaran merupakan pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025. Fajar menegaskan, revitalisasi membuat ruang belajar lebih nyaman. Adapun PID membantu guru memberi materi visual, interaktif dan terhubung dengan banyak sumber pengetahuan.
“Revitalisasi dan PID bukan sekadar pembangunan gedung dan pembagian perangkat. Keduanya mulai mengubah pengalaman belajar anak. Ruang kelas menjadi lebih layak, pembelajaran lebih hidup, dan guru saat ini memiliki lebih banyak cara untuk menjelaskan materi,” tuturnya.