Hotspot Karhutla Melonjak di Kalbar dan Kalteng, Menhut Perkuat Koordinasi

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (tengah), Menhut Raja Antoni (kanan), Gubernur Jambi Al Haris (kiri) serta pejabat terkait usai meninjau Karhutla di
Sumber :
  • Dok. Ist

VIVA Jakarta Kementerian Kehutanan kembali menyoroti peningkatan titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi perhatian utama setelah tren hotspot di kedua provinsi tersebut kembali meningkat.

img_title Didampingi Menhut, Wapres Gibran Turun Langsung Pantau Penanganan Karhutla di Kalbar

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni mengatakan kenaikan tersebut terjadi setelah sebelumnya tren hotspot di enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla menunjukkan penurunan.

“Setelah kemarin semua 6 provinsi yang prioritas trennya turun, namun hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,” kata Menhut Raja Antoni, usai peninjauan karhutla di Jambi, Rabu (2/9/2026).

img_title Tekan Risiko Fatalitas Satwa Terdampak Karhutla, Menhut Siapkan Dokter Hewan Tambahan

Untuk merespons kondisi tersebut, Raja Antoni bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto akan bertolak ke Pontianak, Kalimantan Barat.

Kunjungan itu dilakukan untuk memperkuat kembali koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di daerah, termasuk pemerintah provinsi, kepolisian, dan TNI.

img_title Babinsa Korem 051/Wijayakarta dan Damkar Berjibaku di Tengah Kobaran Api, Selamatkan Permukiman Warga dari Kebakaran

“Oleh karena itu besok, kami ke Pontianak untuk bertemu kembali dengan seluruh stakeholder yang ada, dengan Pak Gubernur, Kapolda, Pangdam ya, merapatkan barisan kembali, melakukan evaluasi sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk mitigasi,” ujar Menhut Raja Antoni.

Menurut Raja Antoni, koordinasi lintas sektor tersebut diperlukan untuk mengevaluasi perkembangan karhutla sekaligus menyusun langkah mitigasi agar peningkatan hotspot dapat ditekan.

“Dan memastikan kembali, mendorong kembali agar angka baik itu apa namanya hotspot maupun fire spot yang sudah diverifikasi dapat turun. Jadi dua itu ya yang masih jadi masalah,” katanya.

Ia juga mengingatkan seluruh pihak agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. Pasalnya, kondisi cuaca dan fenomena El Nino masih menjadi faktor yang perlu diantisipasi dalam upaya pencegahan kebakaran.

Menhut menyebut puncak El Nino berlangsung pada September. Karena itu, menurut dia, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan satu pihak, tetapi membutuhkan kerja sama berbagai pemangku kepentingan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan, hingga cut off 1 September, jumlah hotspot di Kalimantan Barat meningkat signifikan dari 273 menjadi 859 titik.

Halaman Selanjutnya
img_title