Prancis Siaga Maksimum Jelang Demo 24 Oktober 2026

Aksi unjuk rasa pada 17 Oktober diwarnai bentrokan, kerusakan fasilitas publik, dan gangguan keamanan di sejumlah wilayah.
Sumber :
  • France24

VIVA Jakarta – Pemerintah Prancis meningkatkan kewaspadaan keamanan menjelang demonstrasi nasional yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Langkah ini dilakukan setelah aksi unjuk rasa pada 17 Oktober diwarnai bentrokan, kerusakan fasilitas publik, dan gangguan keamanan di sejumlah wilayah.

img_title Pemerintah Bangun Sekat Bakar 3,2 Kilometer untuk Lindungi Habitat Orangutan

Menteri Delegasi untuk Kementerian Dalam Negeri Prancis, Jean-Didier Berger, menegaskan pemerintah berada dalam status kewaspadaan tertinggi untuk mengantisipasi perkembangan situasi dalam beberapa hari ke depan.

“Kami berada pada tingkat kewaspadaan maksimum,” kata Berger kepada stasiun televisi BFMTV, Kamis 22 Oktober 2026.

img_title Pramono Tak Mau Ada Kelurahan Tertinggal, Seluruh 267 Wilayah Jakarta Ditargetkan Ikut BSA 2027

Berger menyatakan pemerintah tidak menutup kemungkinan mengambil langkah pembatasan, termasuk melarang demonstrasi maupun kegiatan budaya dan olahraga apabila kondisi keamanan dinilai memerlukan tindakan tersebut.

Untuk mengamankan demonstrasi mendatang, jumlah personel keamanan yang dikerahkan pada 24 Oktober akan ditingkatkan 20 persen dibandingkan pengerahan pada 17 Oktober.

img_title Pemerintah Siapkan Usulan WFA Jelang Nataru, Antisipasi Lonjakan Arus Kendaraan

“Kami telah membatalkan cuti. Kami juga telah memanggil kembali personel yang seharusnya sedang menjalani cuti dan kini tidak lagi mengambil cuti,” ujarnya.

Selain menambah personel, pemerintah akan mengerahkan Pasukan Sentinelle serta unit khusus, termasuk GIGN dari militer dan RAID dari kepolisian, guna memperkuat pengamanan.

Demo Dipicu Biaya Hidup dan Harga Bahan Bakar

Demonstrasi nasional pada 17 Oktober melibatkan kelompok Gerakan Rompi Kuning (Yellow Vests) dan mahasiswa. Aksi tersebut dipicu protes terhadap tingginya biaya hidup, kenaikan harga bahan bakar, serta persoalan pendanaan pendidikan.

Dalam demonstrasi sebelumnya, pihak berwenang melaporkan kerusakan pada sejumlah tempat usaha dan gedung publik. Situasi tersebut mendorong penerapan jam malam terbatas di beberapa kota sebagai langkah pengendalian keamanan.

Rencana demonstrasi lanjutan pada 24 Oktober membuat aparat meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi potensi kerusuhan dan gangguan ketertiban umum.

Di tengah situasi tersebut, serikat pekerja juga menyerukan pemogokan nasional dan aksi unjuk rasa pada 5 November mendatang. Perkembangan ini menambah perhatian pemerintah terhadap potensi berlanjutnya mobilisasi massa dalam beberapa pekan ke depan.

Macron Panggil Badan Intelijen

Presiden Prancis Emmanuel Macron turut mengambil langkah dengan memanggil seluruh badan intelijen ke Istana Élysée. Pertemuan tersebut digelar setelah lembaga-lembaga intelijen mendapat sorotan karena dinilai gagal mengantisipasi mobilisasi massa pada demonstrasi 17 Oktober.

Halaman Selanjutnya
img_title