PB Mathla’ul Anwar Dukung MUI Tolak Rencana Konser Andrea Bocelli
- Dok. Ist
VIVA Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA), Jazuli Juwaini, menyatakan dukungannya terhadap sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menolak rencana konser penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, di Indonesia. Menurutnya, rencana tersebut perlu dilihat tidak hanya dari sisi hiburan dan ekonomi, tetapi juga dalam konteks komitmen Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina.
Jazuli menilai, sikap Indonesia terhadap persoalan Palestina perlu diwujudkan secara konsisten, termasuk dalam mempertimbangkan rekam jejak figur publik yang diundang untuk tampil dalam kegiatan berskala internasional di Tanah Air.
“Saya mendukung sikap Majelis Ulama Indonesia yang meminta agar rencana konser Andrea Bocelli di Indonesia ditolak. Bagi kita, persoalan ini bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan juga menyangkut konsistensi sikap bangsa Indonesia dalam membela kemerdekaan Palestina dan menentang segala bentuk penjajahan,” ujar Jazuli.
Menurut Jazuli, rekam jejak figur publik dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi pemerintah dan penyelenggara dalam mengambil keputusan terkait penyelenggaraan acara internasional.
“Rekam jejak seorang figur publik, termasuk keterlibatan atau dukungannya terhadap kegiatan yang berkaitan dengan Israel, patut menjadi pertimbangan serius. MUI telah menyoroti rekam jejak Andrea Bocelli, termasuk penampilannya dalam kegiatan yang terkait dengan Friends of the Israel Defense Forces serta konsernya di Tel Aviv. Fakta-fakta tersebut layak dicermati secara objektif dalam mengambil keputusan,” katanya.
Rekam Jejak Andrea Bocelli Menjadi Sorotan MUI
Penolakan MUI terhadap rencana konser Andrea Bocelli turut didasarkan pada sejumlah catatan mengenai keterlibatan penyanyi tersebut dalam kegiatan yang berkaitan dengan Israel.
Dalam penjelasannya, MUI menyoroti penampilan Bocelli dalam kegiatan Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Los Angeles pada 2010. Organisasi tersebut menghimpun dukungan dan dana bagi militer Israel. MUI juga menyinggung konser Bocelli di Tel Aviv pada 2022, yang berlangsung di tengah seruan boikot dari aktivis pro-Palestina.
Bagi MUI, penyelenggaraan konser internasional tidak semestinya hanya dinilai berdasarkan popularitas artis, reputasi di tingkat global, maupun potensi keuntungan ekonomi. Rekam jejak figur yang diundang dan konteks kegiatan yang pernah diikutinya juga dinilai perlu menjadi bahan pertimbangan.