Saat Aku Bersuara Bukan Sekadar Film, Gerakan #NoMoreSilence Gaungkan Perlawanan Korban

Film drama hukum dan sosial 'Saat Aku Bersuara' resmi tayang di bioskop.
Sumber :
  • Istimewa

VIVA Jakarta - Film drama hukum dan sosial 'Saat Aku Bersuara' resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia. Namun, karya terbaru garapan sutradara Sonu Samtani ini hadir dengan misi yang jauh lebih besar daripada sekadar menghibur penonton.

img_title Hendak Salat Zuhur, Lansia di Cakung Malah Disekap Perampok yang Masuk ke Rumah

Mengusung tema kekerasan seksual dan keberanian penyintas untuk mencari keadilan, film produksi Arjuna Mega Films, Rain Creation, dan Lex Pictures tersebut membawa pesan kuat melalui gerakan #NoMoreSilence atau "Tak Lagi Bungkam".

Pesan itu lahir dari realitas yang masih dihadapi banyak korban kekerasan seksual di Indonesia. Tak sedikit penyintas yang memilih diam karena takut disalahkan, tidak dipercaya, atau dianggap mencoreng nama baik keluarga.

img_title Total Perankan Mantan Kiper Tarkam, Fedi Nuril Sampai Cedera Tahan Tendangan Keras

Melalui karakter Nadia yang diperankan Marshanda, film ini menggambarkan perjuangan seorang perempuan yang berusaha bangkit setelah menjadi korban kekerasan seksual saat melindungi sahabatnya.

Sebagai pengacara muda yang memiliki masa depan cerah, kehidupan Nadia berubah drastis setelah peristiwa tersebut. Tekanan datang dari berbagai arah, mulai dari keluarga yang ingin menutupi kasus demi menjaga kehormatan hingga sistem hukum yang dianggap lebih berpihak kepada pihak berkuasa.

img_title Ribuan Penonton Padati Melostra Budi Luhur 2026, Bukti Kolaborasi Seni-Kreativitas Mahasiswa

Bersama Andien (Rini Yulianti), Riana (Hana Malasan), dan Adrian (Ibnu Jamil), seorang jaksa yang juga menyimpan luka masa lalu, Nadia membangun gerakan #NoMoreSilence. 

Gerakan itu menjadi simbol perlawanan terhadap budaya bungkam yang selama ini kerap membuat pelaku lolos dari pertanggungjawaban.

Penulis naskah Tisa TS menegaskan bahwa film ini memang dirancang sebagai ajakan untuk membuka ruang keberanian bagi para korban.

"Kita tidak cuma menonton film sebagai hiburan, tetapi juga menyaksikan sebuah gerakan untuk membuat orang-orang berhenti bungkam," ujarnya dalam press screening di XXI Plaza Senayan, Jakarta dikutip pada Kamis, 18 Juni 2026.

"Segala sesuatu yang selama ini dibungkam, tidak boleh terjadi lagi," lanjutnya.

Semangat serupa juga disampaikan sutradara Sonu Samtani yang meyakini suara perempuan mampu menjadi kekuatan perubahan sosial.

"Kami punya satu keyakinan: ketika perempuan berani bersuara dan bangkit, itu akan menjadi fenomena yang mengubah segalanya," katanya.

Pesan tersebut menjadi napas utama film berdurasi 85 menit ini, yang memadukan drama personal, pertarungan hukum, dan kritik sosial dalam satu cerita.

Halaman Selanjutnya
img_title