Rumah Rapi Belum Tentu Bahagia! Ada Beban Mental yang Sering Tak Disadari

Ilustrasi pekerjaan rumah tangga.
Sumber :
  • Istimewa

VIVA Jakarta - Pekerjaan rumah tangga selama ini sering dipandang sebatas aktivitas fisik seperti mencuci piring, membersihkan rumah, mencuci pakaian, atau menyiapkan kebutuhan keluarga. Namun, di balik berbagai pekerjaan itu terdapat beban mental yang terus bekerja dan sering kali luput dari perhatian.

img_title Hendak Salat Zuhur, Lansia di Cakung Malah Disekap Perampok yang Masuk ke Rumah

Psikolog Adriana Amalia menjelaskan kondisi tersebut dikenal sebagai mental labor atau cognitive household labor. Kondisi itu yakni proses berpikir yang berlangsung terus-menerus dalam mengelola kebutuhan rumah tangga.

Mulai dari mengingat kebutuhan keluarga, menyusun jadwal, mengantisipasi masalah, mengoordinasikan berbagai aktivitas, hingga memastikan semuanya berjalan sesuai rencana merupakan bagian dari pekerjaan mental yang tidak terlihat.

img_title Di Bawah Menteri Dody, IKM Kementerian PU Tembus 89,76

Dia mengatakan banyak orang menilai pekerjaan rumah tangga dari hasil akhirnya yakni bersih atau pekerjaan selesai. Padahal, menurutnya ada serangkaian proses berpikir yang terjadi di baliknya.

"Mulai dari mengingat kebutuhan rumah, mengatur jadwal, hingga memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Aktivitas mental ini dapat berlangsung tanpa henti dan pada akhirnya memicu kelelahan emosional," kata Adriana, Senin, 22 Juni 2026.

img_title Dunia Kerja 2030 Berubah Total, Nilai Bagus Saja Tak Lagi Cukup untuk Bertahan

Menurut Adriana, fenomena ini semakin banyak dialami masyarakat perkotaan yang harus menjalankan berbagai peran dalam waktu bersamaan. Seseorang tak hanya dituntut sebagai pekerja professional. Namun, juga berperan sebagai pasangan, orang tua, pengelola rumah tangga, bahkan perawat anggota keluarga.

Kondisi tersebut dapat memicu role overload atau kelebihan beban peran. Ketika berbagai tanggung jawab menumpuk tanpa jeda, risiko stres, kelelahan emosional, hingga burnout menjadi semakin besar.

Dampak itu tak hanya dirasakan secara psikologis. Namun, juga bisa memengaruhi kualitas hidup, hubungan keluarga, dan tingkat kepuasan dalam menjalani keseharian.

Kelompok yang Paling Rentan

Adriana mengatakan ada beberapa kelompok yang lebih rentan mengalami mental labor dibandingkan lainnya. Mereka antara lain ibu bekerja, orang tua dengan anak usia kecil, caregiver keluarga, hingga individu yang memiliki kecenderungan perfeksionis.

Kelompok tersebut sering merasa harus mengendalikan seluruh aspek rumah tangga sendiri sehingga beban mental yang ditanggung menjadi jauh lebih besar.

Maka itu, keberadaan sistem pendukung atau support system menjadi faktor penting untuk menjaga kesehatan mental.

Halaman Selanjutnya
img_title