Dokter Paru Ungkap Fakta Mengejutkan, Deteksi Dini Kanker Paru di RI Masih Sangat Lemah
- Istimewa
Kondisi tersebut berpotensi menunda dimulainya terapi yang tepat bagi pasien.
Terapi Modern Belum Dinikmati
Perkembangan pengobatan kanker paru sebenarnya terus mengalami kemajuan, mulai dari kemoterapi, radioterapi, terapi target hingga imunoterapi.
Pada pasien kanker paru non-sel kecil (NSCLC) dengan mutasi EGFR, terapi target generasi ketiga seperti Osimertinib telah direkomendasikan dalam berbagai pedoman internasional karena mampu memperlambat perkembangan penyakit, termasuk pada pasien dengan penyebaran ke otak.
Namun, akses terhadap terapi tersebut di Indonesia masih terbatas. Saat ini, pembiayaan BPJS Kesehatan baru mencakup terapi target generasi pertama dan kedua sehingga terapi generasi terbaru belum tersedia secara luas.
Sementara itu, sejumlah negara Asia seperti Jepang, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, dan China telah memasukkan terapi target generasi ketiga ke dalam sistem pembiayaan kesehatan mereka.
Kondisi tersebut dinilai memperlihatkan adanya kesenjangan akses pengobatan yang perlu segera diatasi agar pasien Indonesia memperoleh terapi sesuai perkembangan ilmu kedokteran.
Laporan PhRMA's Global Access to New Medicines Report juga menunjukkan Indonesia masih tertinggal dalam adopsi obat inovatif. Dari 460 obat baru yang diluncurkan secara global sepanjang 2012–2021, hanya sekitar 9 persen yang tersedia di Indonesia, menjadi angka terendah di kawasan Asia Pasifik.
Untuk obat kanker, Indonesia membutuhkan waktu sekitar 45 hingga 48 bulan sejak peluncuran global sebelum dapat diakses pasien. Bahkan, diperlukan hingga 71 bulan agar obat tersebut masuk dalam skema pembiayaan publik.
Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar menilai akses terhadap obat-obatan modern merupakan bagian dari hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.
Menurutnya, kebijakan kesehatan seharusnya tidak semata-mata berorientasi pada efisiensi anggaran, tetapi juga mempertimbangkan manfaat jangka panjang bagi pasien.
Dia menuturkan pendekatan yang berpusat pada pasien perlu menjadi landasan utama dalam penyusunan kebijakan. Hal itu termasuk melalui adopsi obat-obatan dan teknologi kesehatan yang lebih modern agar penyakit dapat ditangani sejak stadium awal.
"Dengan penanganan yang lebih dini dan efektif, risiko berkembangnya penyakit ke stadium lanjut dapat ditekan, sehingga kebutuhan pembiayaan yang lebih besar di tahap berikutnya juga dapat dikurangi," ujar Timboel.