Dunia Kerja 2030 Berubah Total, Nilai Bagus Saja Tak Lagi Cukup untuk Bertahan
- Istimewa
VIVA Jakarta - Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diperkirakan akan mengubah wajah dunia kerja secara drastis dalam beberapa tahun ke depan. Di tengah pesatnya otomatisasi, kemampuan akademik saja dinilai tak lagi cukup untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi persaingan kerja pada 2030.
Laporan Future of Jobs Report 2025 yang dirilis World Economic Forum (WEF) memperkirakan sebanyak 92 juta pekerjaan akan tergantikan akibat adopsi AI. Namun, di saat yang sama, transformasi tersebut juga diproyeksikan melahirkan sekitar 170 juta jenis pekerjaan baru.
Berdasarkan survei terhadap seribu perusahaan di 55 negara, WEF juga mencatat sekitar 40 persen keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja akan berubah dalam beberapa tahun mendatang. Bahkan, sebanyak 66 persen pekerjaan pada 2030 diprediksi akan mengandalkan kolaborasi antara manusia dan teknologi.
Perubahan tersebut membuat keterampilan yang tak dapat digantikan mesin jadi semakin bernilai. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, serta kolaborasi diperkirakan menjadi modal utama agar seseorang tetap relevan di era AI.
Di Indonesia, tantangan untuk membangun keterampilan tersebut masih cukup besar. Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dikutip UNICEF Indonesia menunjukkan hanya 26 persen siswa berusia 15 tahun yang memiliki kemampuan dasar berpikir kreatif. Dari jumlah itu, hanya sekitar lima persen yang mencapai kategori tinggi.
Temuan tersebut jadi perhatian karena kreativitas kini menjadi salah satu kompetensi yang paling banyak dicari dunia kerja. Berbagai kalangan pun mulai menilai bahwa pengembangan keterampilan tersebut harus dimulai sejak anak masih berada pada usia dini, bukan ketika mereka telah memasuki bangku kuliah atau dunia kerja.
Lifelong Learning Jadi Bekal Utama
CEO & Founder Gentem Lifelong Learning Group Kish Gill menilai kemampuan untuk terus belajar jadi fondasi penting bagi seseorang dalam menghadapi perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat.
Dia menuturkan setiap brand dibangun berangkat dari satu nilai yang sama yakni pembelajaran tidak pernah berhenti. Lalu, mereka yang memiliki mindset tersebut adalah mereka yang akan terus berkembang.
"Genstarkids adalah upaya kami untuk membantu anak usia 2,5–12 tahun mencintai proses belajar itu sendiri, sehingga rasa ingin tahu, kreativitas, dan dorongan untuk terus bertumbuh hadir secara natural. Fondasi inilah yang akan menopang kesuksesan mereka di masa depan, baik secara akademis maupun saat kelak memasuki dunia kerja," ujar Kish Gill, CEO & Founder Gentem Lifelong Learning Group, dalam keterangannya, dikutip pada Minggu, 5 Juli 2026.