Nikotin Bikin Fokus seperti Kafein? Ini Penjelasan Pakar dan Fakta Soal Risiko Merokok
- Istimewa/AI
VIVA Jakarta - Konsumsi kopi sudah jadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Banyak orang memanfaatkan secangkir kopi untuk membantu meningkatkan fokus, menjaga konsentrasi, hingga memberikan rasa rileks saat menjalani aktivitas sehari-hari.
Efek tersebut berasal dari kandungan kafein yang bekerja merangsang sistem saraf pusat. Menurut pakar Tobacco Harm Reduction atau pengurangan bahaya tembakau asal Inggris, Clive Bates, nikotin juga memiliki mekanisme yang serupa karena sama-sama memengaruhi pelepasan dopamin di otak.
Ia menjelaskan, banyak perokok dewasa menggunakan nikotin karena efek stimulasi yang dapat membantu meningkatkan fokus, memperbaiki suasana hati, serta memberikan rasa nyaman dan relaksasi.
Clive menuturkan nikotin merupakan zat legal yang banyak digunakan karena memberikan stimulasi otak, pengaturan suasana hati, dan peningkatan kognitif.
"Dalam hal ini, nikotin mirip dengan kafein. Selain itu, sebagai zat tersendiri, nikotin bukan penyebab utama penyakit yang berkaitan dengan kebiasaan merokok," kata Bates, Rabu, 15 Juli 2026.
Menurut Clive, selama penggunaan nikotin masih jadi pilihan sebagian masyarakat, pendekatan yang lebih realistis adalah menyediakan alternatif yang memiliki profil risiko lebih rendah bagi perokok dewasa dibandingkan tetap mengonsumsi rokok konvensional.
"Jika penggunaan nikotin akan terus ada, maka tantangan kesehatan masyarakat bukan menghilangkannya, melainkan menyediakan alternatif yang legal dan memiliki risiko lebih rendah dibandingkan terus merokok," jelas Clive.
Risiko Utama dari Pembakaran Tembakau
Pandangan senada disampaikan Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO), Paido Siahaan. Ia menilai masyarakat perlu memahami perbedaan antara efek nikotin dan bahaya yang muncul akibat proses pembakaran tembakau.
Menurutnya, rokok konvensional memang menghantarkan nikotin dengan cepat ke tubuh, tetapi bersamaan dengan itu juga menghasilkan asap yang mengandung tar, karbon monoksida, serta berbagai zat beracun lainnya.
Dia bilang merokok menghantarkan nikotin dengan sangat cepat. Namun, sekaligus membawa asap hasil pembakaran yang mengandung tar, karbon monoksida, dan berbagai zat beracun lainnya.
"Sebagian besar risiko penyakit akibat kebiasaan merokok berasal dari proses pembakaran tersebut, bukan dari nikotin," jelas Paido.
Paido mengatakan, bagi perokok dewasa yang ingin tetap memperoleh nikotin namun mengurangi paparan zat berbahaya dari asap rokok, saat ini tersedia sejumlah produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektronik, dan kantong nikotin.