Polusi Udara pada Masa Anak-Anak Bisa Berdampak hingga Dewasa, Ini Penjelasan Dokter

Polusi udara Jakarta
Sumber :
  • Dok. Istimewa

VIVA Jakarta – Paparan polusi udara yang terjadi sejak usia dini tidak boleh dianggap sepele. Selain dapat memicu gangguan kesehatan dalam waktu dekat, kualitas udara yang buruk juga berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang yang baru dirasakan ketika seseorang menginjak usia dewasa.

img_title Jakarta Masuk 2 Besar Kota Paling Berpolusi di Dunia, Udara Pagi Ini Bikin Waswas

Dikutip dari Hindustan Times, Dokter spesialis paru dari Kailash Hospital & Neuro Institute, India, Dr. AS Sandhya, mengungkapkan bahwa anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terhadap dampak polusi udara. Hal ini disebabkan organ pernapasan dan sistem kekebalan tubuh mereka masih berada dalam masa pertumbuhan sehingga belum mampu memberikan perlindungan optimal terhadap berbagai zat pencemar di udara.

Menurut Dr. Sandhya, anak-anak juga memiliki laju pernapasan yang lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Kondisi tersebut membuat mereka menghirup udara dalam jumlah lebih banyak jika dibandingkan dengan berat badan mereka, sehingga paparan polutan yang masuk ke dalam tubuh pun menjadi lebih tinggi.

img_title Usia 30 Tahun ke Atas, Massa Otot Mulai Berkurang? Ini Cara Menjaga Tubuh Tetap Kuat

"Anak-anak lebih mudah terpapar polusi karena paru-paru dan sistem imunnya masih berkembang. Mereka juga bernapas lebih cepat sehingga jumlah polutan yang masuk ke tubuh lebih besar," jelasnya seperti dikutip dari Hindustan Times.

Partikel Polusi Bisa Masuk ke Paru-Paru hingga Aliran Darah

img_title Kualitas Udara Jakarta Masuk Enam Terburuk Dunia, Ini Strategi Pemprov DKI

Buruknya kualitas udara umumnya dipengaruhi oleh tingginya kadar polutan seperti partikel halus PM2.5, nitrogen dioksida, serta berbagai senyawa beracun yang berasal dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan pembakaran bahan bakar fosil.

Partikel berukuran sangat kecil tersebut mampu menembus saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru. Bahkan, sebagian polutan dapat memasuki aliran darah dan memicu peradangan berkepanjangan serta stres oksidatif yang berbahaya bagi kesehatan.

Apabila kondisi ini berlangsung terus-menerus sejak masa kanak-kanak, risiko munculnya berbagai penyakit kronis di kemudian hari akan meningkat. Dr. Sandhya menjelaskan bahwa paparan polusi dalam jangka panjang dapat merusak DNA dan mengganggu pertumbuhan sel normal, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kanker saat dewasa.

Tidak hanya itu, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan tingkat pencemaran udara tinggi cenderung mengalami penurunan fungsi paru-paru, lebih sering terserang infeksi saluran pernapasan, serta memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah.

Halaman Selanjutnya
img_title