Pakar: BPA Tak Hanya Ada di Galon Polikarbonat, Juga Digunakan pada Berbagai Kemasan Pangan

Ilustrasi mobil angkutan air minum dalam kemasan.
Sumber :
  • Dok. Antara

VIVA Jakarta Pakar Teknik Kimia Steven Soen mengatakan zat Bisphenol A (BPA) tidak hanya digunakan pada galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC), tetapi juga terdapat pada berbagai produk dan kemasan pangan yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

img_title Pemerintah Tidak Naikkan Harga Pertamax, Pakar Beberkan Sejumlah Alasannya

Menurutnya, pembahasan mengenai BPA selama ini cenderung hanya menyoroti galon PC, padahal penggunaannya jauh lebih luas.

“BPA itu ada di mana-mana. Ada di makanan kaleng, di gigi palsu, di kertas nasi yang biasa untuk bungkus makanan kalau kita beli di warung makan, itu ada laminasi plastik, ada pelapisnya, dan itu ada BPA-nya,” kata Steven Soen di Jakarta, dikutip Rabu, 29 Juli 2026

img_title Pakar ITB Nilai Target Lifting Minyak 2027 Realistis, Sumur Rakyat Bisa Jadi Penopang

Steven menjelaskan, monomer BPA juga digunakan pada sejumlah produk lain yang bersentuhan langsung dengan makanan maupun tubuh manusia. Karena itu, ia menilai pembahasan mengenai BPA seharusnya tidak hanya terfokus pada galon polikarbonat.

Peneliti postdoctoral BRIN tersebut menambahkan, BPA juga kerap digunakan pada lapisan epoksi yang menjadi pelapis bagian dalam kaleng makanan, lantai epoksi, hingga berbagai produk dekoratif berbahan resin. Ia pun mempertanyakan mengapa isu BPA lebih banyak diarahkan kepada galon PC.

img_title Aturan Penyeragaman Kemasan Berpotensi Picu Berbagai Permasalahan Baru

“Kenapa isunya cuma dibahas di galon polikarbonat? Kenapa nggak di makanan kaleng? Kenapa nggak di hiasan-hiasan epoksi? Kenapa nggak di gigi palsu yang kalian pakai?”

Menurut Steven, keberadaan BPA yang digunakan secara luas tidak berarti seluruh produk yang mengandung bahan tersebut otomatis membahayakan kesehatan. Yang menjadi acuan utama, kata dia, adalah apakah migrasi BPA dari kemasan ke pangan atau minuman masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan regulator.

Ia juga mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir mengonsumsi air minum dari galon berbahan polikarbonat. Menurutnya, berbagai penelitian mengenai uji migrasi BPA pada sejumlah produk air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia menunjukkan hasil yang masih berada di bawah ambang batas aman yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Steven menegaskan bahwa keberadaan BPA pada suatu material tidak otomatis membuat produk tersebut berbahaya. Penilaian keamanan, menurutnya, harus mengacu pada hasil pengujian migrasi serta kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.

Halaman Selanjutnya
img_title