Susah Tidur Tengah Malam? Andrew Huberman Ungkap Trik Gerakan Mata untuk Membantu Otak Lebih Tenang
- Image
VIVA Jakarta – Pernah terbangun atau belum juga tertidur ketika malam sudah larut, sementara pikiran justru semakin aktif? Kondisi seperti ini bisa membuat seseorang merasa frustrasi. Tubuh sudah berada di tempat tidur, tetapi otak seolah belum mendapatkan sinyal untuk berhenti bekerja.
Dilansir laman Hindustan Times, Ahli saraf sekaligus profesor neurobiologi Stanford School of Medicine, Andrew Huberman, membagikan sebuah teknik sederhana yang dapat dicoba ketika seseorang mengalami kesulitan untuk terlelap. Teknik tersebut menggunakan gerakan mata tertentu dalam kondisi mata tetap tertutup.
Huberman membahas teknik itu saat tampil dalam podcast Figuring Out With Raj Shamani pada 1 September 2026. Dalam pembahasannya, ia menjelaskan bahwa kemampuan untuk menenangkan pikiran dan mendapatkan tidur berkualitas memiliki kaitan dengan kondisi biologis tubuh.
Menurut Huberman, seseorang yang mampu benar-benar melepaskan aktivitas mental menjelang tidur dan mendapatkan istirahat yang lebih dalam akan memiliki kondisi yang lebih baik untuk menghadapi aktivitas pada hari berikutnya.
Gerakan mata sederhana saat sulit tidur
Ketika seseorang kesulitan untuk tidur atau kembali terlelap setelah terbangun di malam hari, Huberman menyarankan sebuah rangkaian gerakan mata yang dilakukan secara perlahan.
Pertama, tetap tutup mata dan gerakkan bola mata secara perlahan ke satu sisi. Setelah itu, arahkan ke sisi yang berlawanan. Gerakan kemudian dilanjutkan dengan memutar bola mata secara perlahan berlawanan arah jarum jam, lalu searah jarum jam.
Setelah rangkaian tersebut dilakukan, arahkan pandangan mata ke bagian ujung hidung. Gerakan ini tidak berarti harus benar-benar menyilangkan mata. Setelah itu, tarik atau embuskan napas secara perlahan untuk membantu tubuh menjadi lebih rileks.
Huberman mengaitkan teknik tersebut dengan propriosepsi, yaitu sistem tubuh yang membantu otak mengetahui posisi anggota tubuh di dalam ruang.
Menurutnya, ketika seseorang mulai tertidur, kesadaran terhadap posisi tubuh secara bertahap perlu berkurang. Dengan mengubah pola sinyal yang berkaitan dengan kesadaran posisi tubuh, teknik tersebut disebut dapat membantu seseorang memasuki kondisi yang lebih rileks.
Namun, teknik ini sebaiknya dipahami sebagai metode relaksasi yang dapat dicoba, bukan jaminan bahwa seseorang pasti langsung tertidur. Kesulitan tidur dapat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari stres, kebiasaan tidur, konsumsi kafein, penggunaan perangkat elektronik hingga kondisi kesehatan tertentu.