Pemerintah Putuskan MBG Hanya untuk Hari Sekolah

Menko bidang Pangan Zulkifli Hasan (kiri).
Sumber :
  • Instagram zul.hasan

VIVA Jakarta – Pemerintah mengumumkan bahwa Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya akan diberikan pada hari-hari di mana para murid masuk sekolah, alias tidak diberikan ketika hari libur.

img_title Pramono Tak Mau Ada Kelurahan Tertinggal, Seluruh 267 Wilayah Jakarta Ditargetkan Ikut BSA 2027

Hal ini menyusul evaluasi lintas kementerian/lembaga yang disampaikan dalam rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan RI.

Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, pemberian MBG saat hari libur ternyata kurang efektif.

img_title BGN Bangun Marketplace Loka MBG, Harga Bahan Pangan Bakal Diatur

“Dalam rangka perbaikan, efektivitas pelaksanaan, kalau kemarin (MBG diberikan selama) 6 hari, hari libur dikasih juga. Nah, itu ternyata kurang efektif. Oleh karena itu kita putuskan MBG itu (diberikan saat) hari sekolah, (murid) datang 5 hari. Kalau libur Lebaran, kan, kalau (diberikan MBG) juga tidak efektif. Jadi itu libur tidak ada lagi (penyaluran MBG ke siswa), hanya diberikan di hari sekolah,” kata Zulhas di Jakarta, Kamis, 2 April 2026.

Berdasarkan Pedoman Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG Selama Libur Sekolah yang ditetapkan melalui Keputusan Kepala BGN Nomor 52.1 Tahun 2025, Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan bahwa alur distribusi MBG tetap berlanjut meski sekolah memasuki masa libur semester, di mana Kelompok 3B yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita tetap menerima MBG enam hari dalam sepekan tanpa terpengaruh kalender libur sekolah.

img_title Sekolah Rakyat Genap Setahun, Teknologi Karya Anak Bangsa Disiapkan untuk Generasi Muda

Sementara, siswa dan santri memperoleh paket MBG sesuai mekanisme libur sekolah pada sekolah atau pesantren yang bersedia hadir untuk pendistribusian.

Tukang cuci ompreng di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

Photo :
  • Tangkapan layar FB Mitra SPPG MBG BGN

Lebih lanjut, Menko Pangan mengatakan pemerintah juga menaruh perhatian lebih pada penyaluran MBG di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dan daerah-daerah dengan tingkat stunting anak yang tinggi.

Menurut pria yang akrab disapa Zulhas itu, distribusi MBG harus dapat menyesuaikan dengan kondisi di daerah tersebut, mulai dari segi kualitas menu makanan hingga jumlah pemberian kepada penerima manfaat.

“Tetapi yang 3T dan yang tinggi sekali stunting-nya, tentu ada penanganan khusus. Selain 5 hari sekolah, kalau diperlukan bisa saja ditambah lagi 1 hari, karena (tingkat) stunting-nya tinggi, atau dia tinggal di daerah tertinggal, kemiskinan juga tinggi, dan sebagainya. Itu adalah perlakuan khusus,” ujar Zulhas.

Halaman Selanjutnya
img_title