Mahfuz Sidik: Waspada Sabotase Celah Gencatan Senjata AS-Iran
- Partai Gelora
VIVA Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS), Donalt Trump, mengumumkan gencatan senjata terhadap Iran, selama dua pekan. Setelah sebelumnya mengancam melakukan serangan ke negara tersebut. Trump mengumumkan itu melalui akun Truth pada Selasa waktu setempat.
Sedangkan Menlu Iran, Sayed Abbas Araghchi, dalam pernyataan resminya mengatakan operasi defensif dihentikan bila serangan militer ke Iran dihentikan. Dalam periode gencatan senjata dua pekan, Selat Hormuz berpeluang dibuka.
Gencatan senjata ini melalui mediasi yang dimotori Pakistan. Serta mendapat dukungan Saudi Arabia, Mesir dan Turki. Pihak negara-negara Teluk (GCC) secara terbuka juga mendukung upaya mediasi menuju gencatan senjata ini.
Melihat perkembangan tersebut, Sekretaris Jenderal Partai Gelora (Gelombang Rakyat) Indonesia, Mahfuz Sidik, menjelaskan beberapa point. Pertama, gencatan senjata ini harus didukung. Harapannya, akan menjadi pintu masuk untuk membuat kesepakatan mengakhiri perang yang sudah berjalan 40 hari dan menimbulkan dampak serius yang berskala global.
Kedua, mengapresiasi Pakistan melalui Perdana Menteri Shehbaz Sharif, yang telah memimpin mediasi gencatan senjata dan penghentian perang.
Keberhasian inisiatif Pakistan, lanjutnya menjelaskan, juga karena dukungan kuat dari pihak Saudi Arabia, Mesir dan Turki yang sebelumnya telah mengadakan pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri pada 29 Maret di Islamabad, Pakistan.
“Mendorong dibangunnya dialog komprehensif para pemimpin negara-negara muslim di kawasan, untuk mewujudkan keamanan dan stabilitasi regional yang lebih permanen, dan bertumpu pada kekuatan dan kerjasama negara-negara tersebut,” jelasnya.
Adapun dialog komprehensif yang dibangun, menurutnya perlu melibatkan negara-negara muslim baik itu di kawasan Timur Tengah (Middle East), Asia Barat (West Asia), dan Afrika Utara (North Africa) sebagai para pihak pemangku kepentingan regional yang lebih luas.
Keempat, jelas Mahfuz, perlu untuk mewaspadai adanya upaya sabotase yang ingin menggagalkan gencatan senjata, serta sabotase untuk menutup pintu negosiasi penghentian perang.
“Sabotase sangat mungkin dilakukan oleh pihak yang akan dirugikan oleh kesepakatan gencatan senjata dan penghentian perang. Israel yang sejak awal dinilai telah “memaksa” Amerika Serikat melakukan serangan militer terhadap Iran, harus menghentikan semua tindakan militernya yang masih dilakukan di kawasan ini; Gaza, Libanon Selatan, dan ke wilayah Iran. Karena jika tidak, tindakan militer Israel hanya akan memporak-porandakan celah gencatan sejata dan peluang negosiasi penghentian perang,” jelasnya.