Terima Policy Brief Mahasiswa Monash, Ibas Dorong Kebijakan Berbasis Riset

Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat kunjungan ke Herb Feith Centre, Monash University, Melbourne, Australia
Sumber :
  • Dok. Ist

VIVA Jakarta – Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, mendorong pemanfaatan hasil penelitian dan kajian akademik sebagai landasan penyusunan kebijakan publik. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa, peneliti, dan akademisi diperlukan agar kebijakan yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

img_title Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran, Ini 5 Tuntutan yang Dibawa Mahasiswa

Hal tersebut disampaikan Ibas saat mengunjungi Herb Feith Centre, Monash University, Melbourne, Australia, dalam pertemuan bersama mahasiswa Indonesia, perwakilan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), dan sivitas akademika.

Dalam pertemuan itu, Ibas menekankan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat berkontribusi dalam penyelesaian persoalan bangsa melalui penelitian dan rekomendasi kebijakan.

img_title Gelar Aksi di Bareskrim dan Kejagung, Mahasiswa Minta Dugaan Ilegal Mining Diusut

“Negara membutuhkan pandangan dari para ahli, kampus, dan kajian-kajian akademis. Saya berharap gagasan yang dihasilkan oleh mahasiswa, peneliti, dan akademisi dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi berbagai persoalan kehidupan masyarakat,” ujar Ibas dikutip Rabu, (22/10).

Ia menilai, penyusunan kebijakan publik perlu didukung kajian yang memadai, partisipasi masyarakat, serta proses evaluasi yang berkelanjutan. Kualitas kebijakan, menurutnya, tidak hanya ditentukan oleh selesainya proses legislasi, tetapi juga oleh penerapan aturan dan manfaatnya bagi masyarakat.

img_title Dirlantas Dampingi Kapolda Jambi Atur Lalu Lintas

Dalam diskusi tersebut, Ibas mendorong mahasiswa dan akademisi menyusun policy brief atau rekomendasi kebijakan berbasis riset untuk disampaikan kepada MPR RI, DPR RI, kementerian, maupun pemerintah. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Ibas juga menanggapi gagasan mahasiswa bernama Anhar dan mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam mengembangkan pemikiran serta rekomendasi kebijakan. Ia menekankan bahwa aspirasi perlu didukung riset yang transparan dan pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat agar dapat menjadi masukan konstruktif bagi lembaga negara.

Menurut Ibas, penyusunan kebijakan perlu diawali dengan pemahaman mendalam mengenai kebutuhan dan harapan masyarakat. Karena itu, Indonesia membutuhkan kontribusi ilmuwan, psikolog, dan ahli perilaku atau behavioral scientists untuk mempelajari perilaku masyarakat secara sistematis.

Hasil kajian tersebut diharapkan dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi dan program yang relevan. Dengan demikian, policy brief tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi juga menjadi penghubung antara penelitian dan proses pengambilan keputusan.

Halaman Selanjutnya
img_title