Riset Internasional Soroti Produk Tembakau Alternatif sebagai Opsi Pengurangan Risiko
- Istimewa/AI
VIVA Jakarta - Berbagai riset internasional mulai menyoroti produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin sebagai opsi pengurangan risiko bagi perokok dewasa.
Pendekatan ini dikenal dengan konsep tobacco harm reduction (THR) atau pengurangan bahaya tembakau, yakni mendorong perokok dewasa beralih dari rokok konvensional yang menghasilkan asap pembakaran.
Sejumlah penelitian menyebut produk bebas asap memiliki profil risiko yang lebih rendah dibanding rokok biasa karena tidak melalui proses pembakaran tembakau.
Salah satu kajian yang dipublikasikan jurnal medis internasional The Lancet berjudul “Functionally important respiratory symptoms and continued cigarette use versus e-cigarette switching: population assessment of tobacco and health study waves 2-6” menunjukkan adanya potensi perbaikan fungsi pernapasan pada perokok dewasa yang sepenuhnya beralih ke rokok elektronik selama 30 hari.
Penelitian observasional itu melibatkan 5.653 perokok dewasa di Amerika Serikat (AS).
“Temuan ini menunjukkan potensi manfaat kesehatan jangka pendek berupa perbaikan fungsi pernapasan dengan beralih sepenuhnya dari rokok ke rokok elektronik bagi para perokok dewasa. Penelitian lebih lanjut dapat menentukan bagaimana peralihan ke rokok elektronik memengaruhi pernapasan secara jangka panjang,” demikian tertulis dalam laporan itu dikutip pada Selasa, 12 Mei 2026.
Kajian lain bertajuk “E-Cigarette Use and Risk of Cardiovascular Disease: A Longitudinal Analysis of the PATH Study (2013-2019)” juga menemukan bahwa pengguna rokok elektronik dalam jangka pendek dan menengah memiliki potensi risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah dibanding perokok aktif.
Rokok elektronik atau vape.
- Istimewa/AI
Penelitian yang dipublikasikan Jonathan B. Berlowitz dan tim itu menggunakan data PATH Study di AS dengan sampel awal 32.320 orang dewasa.
Hasil riset menyebut pengguna rokok elektronik berpotensi mengalami penurunan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah sekitar 30 hingga 40 persen dibanding perokok.
“Kami tidak menemukan perbedaan signifikan terkait risiko penyakit kardiovaskular konsumen rokok elektronik dengan non-perokok dan non-konsumen rokok elektronik,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Pun, eks Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tikki Pangestu, menjelaskan berbagai bukti ilmiah selama puluhan tahun menunjukkan bahwa sumber utama penyakit akibat merokok berasal dari asap hasil pembakaran, bukan nikotin itu sendiri.