KAI dan BRIN Perkuat Riset Automatic Train Protection, Roadmap Disiapkan hingga Kuartal II-2027

PT KAI menandatangani Nota Kesepahaman dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Sumber :
  • KAI

Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa mengatakan, pengembangan ATP memerlukan tahapan kajian, pengujian, dan evaluasi yang terukur karena harus menyesuaikan kondisi operasional perkeretaapian di Indonesia.

img_title KAI dan INKA Pastikan Perawatan 7 Trainset KRL iE305 Sesuai Target, Keamanan Jadi Prioritas

“Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap proses adopsi teknologi di KAI. Kolaborasi bersama BRIN memberi ruang bagi kami untuk menguji berbagai alternatif teknologi berbasis riset sehingga keputusan implementasinya memiliki landasan teknis, operasional, dan keselamatan yang kuat,” ujar I Gede.

ATP merupakan sistem proteksi perjalanan kereta api yang memiliki tiga fungsi utama, yaitu mencegah kereta api melewati sinyal dalam kondisi berhenti atau Signal Passed at Danger, mengawasi kecepatan perjalanan, serta menyampaikan informasi operasional kepada masinis.

img_title Lawang Sewu Hadirkan Jejak Perjalanan Kereta Api Peninggalan Hindia Belanda

Sistem tersebut memerlukan integrasi antara perangkat yang terpasang pada prasarana dan perangkat onboard pada lokomotif atau kereta berpenggerak.

Pengembangan teknologi tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 52 Tahun 2014 mengenai kewajiban implementasi Sistem Kendali Kereta Otomatis. Dalam pembagian tanggung jawabnya, pengelola prasarana menentukan sistem yang dipasang pada jalur, sedangkan operator sarana memasang perangkat onboard yang kompatibel dengan sistem tersebut.

img_title KAI Pastikan Perjalanan KA Aman di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

KAI dan BRIN akan menggunakan pendekatan Proof of Product sebagai tahap validasi sebelum menentukan teknologi ATP yang akan diadopsi. Pendekatan ini digunakan untuk memvalidasi fungsi, integrasi, dan kinerja teknologi pada kondisi yang merepresentasikan operasi KAI, sekaligus mengidentifikasi kesenjangan, memetakan risiko, serta menyusun kebutuhan penyesuaian dan mitigasi.

Validasi diperlukan karena lingkungan operasional KAI memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi, meliputi lalu lintas kereta api yang beragam, perbedaan karakteristik sarana, variasi pola operasi, kompleksitas prasarana, kebutuhan interoperabilitas, serta penggunaan teknologi dari berbagai penyedia.

Proses tersebut juga mempertimbangkan kesiapan data, regulasi, sumber daya manusia, dan sistem pemeliharaan.

“Proof of Product memungkinkan teknologi dinilai dalam situasi operasional yang relevan. KAI dapat memahami sejak awal fungsi, antarmuka, kebutuhan integrasi, potensi risiko, serta kemampuan pemeliharaannya sebelum teknologi tersebut diterapkan dalam skala yang lebih luas,” kata I Gede.

Roadmap pengembangan ATP disusun dalam tiga tahapan. Tahap pertama dilaksanakan pada Triwulan III 2026 melalui pembentukan ATP Working Group yang melibatkan KAI dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Sejalan dengan working group tersebut, akan dilakukan kerjasama dengan BRIN, untuk kajian kondisi lokal operasional ATP antara lain standardisasi, kondisi cuaca, sambaran petir dan long maintenance sustainabilty.

Halaman Selanjutnya
img_title