Formappi: DPR Pengecut, Tak Berani Hadapi Rakyatnya Sendiri
- Dok. Istimewa
“Bagaimana bisa DPR justru memilih untuk menghindar. Rapat-rapat ditiadakan agar anggota tidak berhadapan langsung dengan massa. Ini sungguh sebuah pilihan yang boleh dibilang agak ‘pengecut’,” katanya.
Lucius menekankan bahwa aksi massa tersebut murni ditujukan kepada DPR, bukan kepada pihak lain. Oleh karena itu, seharusnya DPR berani bertanggung jawab dan menghadapi rakyat.
“Bagaimana bisa DPR sebagai wakil rakyat justru takut dengan rakyatnya sendiri. Siapa sesungguhnya anggota-anggota DPR ini. Bagaimana bisa mereka mengaku wakil rakyat, tetapi tak mau bertemu dengan rakyat?” ujarnya menohok.
Ia juga mengingatkan, hilangnya kepercayaan publik terhadap DPR sama saja dengan runtuhnya legitimasi lembaga itu sebagai wakil rakyat. “Fungsi DPR sebagai wakil rakyat itu didasarkan pada kepercayaan. Kalau rakyat tidak percaya lagi seperti yang terlihat dalam aksi massa sepekan ini, ya harusnya tak ada alasan lagi anggota DPR melanjutkan perannya sebagai wakil rakyat,” tambahnya.
Menyoroti jatuhnya korban dalam aksi terbaru, Lucius mendesak DPR segera mengambil langkah nyata. “Dengan jatuhnya korban dilihat rakyat, DPR harus segera menyatakan sikap resmi mereka sekaligus memastikan aparat keamanan bekerja profesional dan tidak menggunakan kekerasan,” katanya.
Lucius menutup dengan peringatan keras. “Bukan waktunya lagi bagi DPR untuk diam, karena emosi rakyat semakin tinggi setelah jatuhnya korban. Saatnya DPR membuktikan semua anggapan dan sikap tidak percaya publik kepada mereka dijawab melalui respons yang bijak dan tepat,” pungkasnya.