Pentingnya Dukungan Industri Hulu dan Hilir Gas Demi Implementasi Asta Cita Prabowo

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro
Sumber :
  • Istimewa

Komaidi mengungkapkan, pengembangan dan pengusahaan industri hulu gas sejalan dengan pelaksanaan kebijakan transisi energi, penyelesaian masalah defisit gas di sejumlah wilayah, dan pelaksanaan kebijakan hilirisasi. 

Berdasarkan kajian ReforMiner, jika 50% volume konsumsi minyak bumi dan batubara Indonesia dikonversi dengan gas bumi, dapat menurunkan emisi masing-masing 36,16 juta ton CO2e dan 123,35 juta ton CO2e. 

Potensi defisit pasokan gas pada wilayah Jawa Barat dan Sumatera yang diproyeksikan akan meningkat menjadi sekitar 513 MMSCFD pada 2035 dapat diminimalkan jika pengembangan dan pengusahaan hulu gas dapat dioptimalkan.

Pelaksanaan hilirisasi gas yang akan dilaksanakan memerlukan dukungan dan pasokan dari industri hulu gas. 

Kebutuhan gas untuk hilirisasi yang akan dilakukan untuk (1) Pupuk Iskandar Muda (PIM)-3, (2) Pupuk Sriwijaya (Pusri) III, (3) Proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban, (4) Amurea Pupuk Kimia Gresik (PKG).

Lalu (5) Pabrik Methanol Bojonegoro, (6) Proyek Petrokimia Masela, (7) Pengembangan Amonia Banggai, (8) Pengembangan Ammonia dan Urea di Papua Barat, dan (9) Pengembangan Blue Amonia di Papua Barat, diproyeksikan mencapai 1.078 MMSCFD.   

Optimalisasi pengembangan dan pengusahaan hilir gas memiliki peran strategis dalam memperbaiki kondisi fiskal dan moneter Indonesia.