Menkomdigi Ingatkan Algoritma Dapat Percepat Penyebaran Radikalisme
- Dok. Kementerian Komdigi
VIVA Jakarta – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengingatkan masyarakat agar mewaspadai proses radikalisasi di ruang digital yang kerap berlangsung secara perlahan dan tidak selalu diawali dengan ajakan melakukan kekerasan.
Menurutnya, paparan paham ekstrem dapat bermula dari interaksi sederhana di internet hingga diperkuat oleh algoritma yang terus merekomendasikan konten serupa kepada pengguna.
Hal tersebut disampaikan Meutya dalam Diskusi Publik dan Bedah Buku Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran di Studio 2 Menara Kompas, Jakarta, dikutip Kamis, (30/7/2026).
“Ketika kekuatan narasi di era digital bergabung dengan kekuatan algoritma untuk sesuatu yang buruk, dampaknya akan termultiplikasi,” kata Meutya.
Ia menjelaskan, kombinasi narasi ekstrem dan algoritma media digital dapat menciptakan persepsi seolah informasi yang terus muncul di layar merupakan kebenaran. Dalam kondisi tersebut, fakta berpotensi dikalahkan oleh emosi, keyakinan, serta paparan informasi yang berulang hingga membentuk situasi post-truth.
Menurut Meutya, proses radikalisasi tidak berlangsung secara instan. Pelaku dapat memulainya melalui pendekatan personal seperti memberikan bantuan, membantu pengobatan, melunasi utang, hingga menawarkan pendidikan atau kehidupan yang lebih baik. Setelah kepercayaan terbentuk, korban kemudian mulai diperkenalkan pada narasi ideologis yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia juga mengingatkan para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan pola komunikasi anak sebagai salah satu tanda awal paparan konten berbahaya di ruang digital.
“Anak yang biasanya bercerita dari A sampai Z, perlahan hanya bercerita dari A sampai G. Kemudian berkurang menjadi A sampai C, sampai akhirnya tidak menceritakan apa pun kepada orang tuanya,” katanya.
Menurut Meutya, perubahan tersebut sering kali luput disadari karena berlangsung secara bertahap selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Karena itu, ia menilai buku Atas Nama Surga tidak hanya relevan untuk memahami persoalan terorisme, tetapi juga berbagai dampak sosial yang muncul akibat ruang digital yang tidak sehat.
Dalam kesempatan yang sama, penulis buku Alexander Sabar menjelaskan bahwa algoritma berperan besar dalam memperkuat paparan konten sesuai minat pengguna. Ketika seseorang mengakses satu konten mengenai jihad, misalnya, sistem dapat terus merekomendasikan materi serupa dengan tingkat ekstremitas yang semakin tinggi.
Alexander juga menyoroti permainan digital sebagai salah satu jalur masuk penyebaran paham radikal. Melalui gim daring, anak-anak dapat berkenalan dengan pengguna lain, bergabung dalam grup percakapan tertutup, lalu terpapar diskusi mengenai kekerasan, terorisme, hingga berbagai bentuk kejahatan.
“Ruang digital menjadi sarana untuk menyebarkan radikalisasi. Dari permainan, mereka berdiskusi, masuk ke kelompok tertutup, kemudian membicarakan berbagai kejahatan dan tindakan kekerasan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Mayndra Eka Wardhana mengatakan pihaknya mendeteksi adanya perubahan pola perekrutan kelompok ekstrem yang kini semakin memanfaatkan berbagai platform digital. Anak-anak dan remaja dinilai menjadi kelompok yang rentan karena umumnya lebih akrab dengan teknologi dibandingkan orang tua mereka.
“Kami mendeteksi bahwa memang terjadi pergeseran pola perekrutan. Berbagai platform digunakan oleh pelajar, anak-anak, dan remaja. Algoritma memiliki peran amplifikasi yang sangat besar,” kata Mayndra.
Menurutnya, penanganan terorisme tidak cukup hanya melalui penegakan hukum karena persoalan tersebut memiliki akar ideologis. Upaya pencegahan perlu dilakukan melalui edukasi, kontra narasi, deradikalisasi, serta kolaborasi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, keluarga, sekolah, media, dan platform digital.
Pelaksana Tugas Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ratna Susianawati, juga mengingatkan bahwa anak merupakan kelompok yang paling rentan dalam proses transformasi digital.
“Teknologi digital bagi anak ibarat pisau bermata dua. Anak-anak harus dibekali agar dapat memanfaatkan teknologi secara aman, nyaman, dan bijak sesuai batas usianya,” kata Ratna.
Ia menilai propaganda menjadi salah satu metode utama yang digunakan jaringan ekstrem. Oleh karena itu, keluarga perlu menjaga komunikasi yang terbuka, memahami aktivitas digital anak, dan tidak menyerahkan seluruh proses pengasuhan kepada perangkat maupun platform digital.
Sementara itu, Kriminolog Siber Kisnu Widagso mengatakan kejahatan di ruang siber tidak berhenti di dunia virtual, tetapi dapat berdampak langsung terhadap kehidupan nyata.
“Kejahatan memang terjadi di dunia siber, tetapi dampaknya bukan hanya di ruang siber. Dampaknya juga terjadi di dunia nyata,” katanya.
Menurut Kisnu, anonimitas, enkripsi, dan ruang percakapan tertutup memberikan peluang bagi pelaku untuk menjalankan aksinya. Selain itu, algoritma juga dapat membentuk echo chamber yang membuat pengguna hanya menerima informasi sejenis sehingga narasi ekstrem perlahan dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Jurnalis Kompas Sari Febriane menambahkan bahwa penyebaran propaganda telah berubah drastis dibandingkan masa lalu. Jika sebelumnya narasi kekerasan disebarkan melalui VCD atau dokumen fisik, kini ruang siber memungkinkan penyebaran berlangsung lebih cepat, lebih personal, dan terus berulang.
“Ruang siber menjadi breeding ground sekaligus playing ground bagi berbagai kejahatan yang memakai narasi sebagai kekuatannya. Yang lebih berbahaya daripada senjata adalah cerita,” ujar Sari.
Selain diskusi, kegiatan tersebut juga diisi dengan peluncuran buku Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran karya Alexander Sabar. Peluncuran dilakukan bersama Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid serta Pemimpin Redaksi Harian Kompas A. Haryo Damardono.