Iran Tegaskan Siap Hadapi Perang Panjang dengan AS, IRGC Bicara soal Efek Jera

Rudal milik Iran.
Sumber :
  • Istimewa

VIVA Jakarta – Iran menegaskan kesiapannya menghadapi kemungkinan konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat (AS). Pernyataan tersebut disampaikan pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC di tengah kembali memanasnya hubungan antara Teheran dan Washington.

img_title IRGC Klaim Teknologi Canggih AS Tak Mampu Lolos dari Pengawasan Iran di Selat Hormuz

Penasihat utama komandan IRGC, Mohammad Reza Naqdi, mengatakan Iran perlu memastikan memiliki kemampuan untuk memberikan efek jera kepada pihak yang berencana melakukan serangan. Menurutnya, keamanan Iran hanya dapat terjamin apabila calon lawan memahami bahwa setiap serangan akan membawa konsekuensi yang serius.

Dalam wawancara dengan PBS, Naqdi menyampaikan bahwa Iran bahkan siap menghadapi konflik dalam waktu lama apabila situasi mengharuskannya. Ia menggambarkan kemungkinan perang berlangsung hingga masa jabatan presiden AS berikutnya.

img_title Iran Klaim Serang Tiga Kapal Tanker di Selat Hormuz, Kapal Terkait AS Juga Jadi Sasaran

Menurut Naqdi, memperpanjang konflik dan membuat pihak lawan mengalami kerugian dapat menjadi bagian dari strategi untuk membangun efek jera. Dengan demikian, negara atau kelompok mana pun yang mempertimbangkan serangan terhadap Iran di masa mendatang akan memperhitungkan risiko yang harus mereka tanggung.

Penasihat komandan IRGC itu juga menyampaikan penilaiannya terhadap kemampuan militer Amerika Serikat. Ia mengatakan kekuatan angkatan bersenjata AS ternyata tidak sekuat perkiraan Iran sebelumnya.

img_title Korsel Mulai Siapkan Pengerahan Militer ke Selat Hormuz, Ini Alasannya

Pernyataan tersebut muncul ketika hubungan kedua negara kembali berada dalam situasi yang penuh ketegangan. Iran dan Amerika Serikat sebelumnya sempat mencapai kesepahaman yang diharapkan dapat menghentikan konflik antara kedua pihak.

Pada 18 Juni, kedua negara disebut menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang telah dimulai sejak 28 Februari. Kesepakatan tersebut sempat memberikan harapan bagi terjadinya penurunan eskalasi dan membuka ruang bagi proses diplomasi.

Namun, perkembangan selanjutnya kembali mengubah situasi. Pada 8 Juli, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata yang sebelumnya berlaku tidak lagi berjalan.

Ketegangan kemudian berlanjut dengan munculnya kebijakan Iran terkait Selat Hormuz. Pada 12 Juli, Teheran mengumumkan penutupan jalur pelayaran strategis tersebut sampai campur tangan Amerika Serikat di kawasan dinyatakan berakhir.

Keputusan mengenai Selat Hormuz memiliki arti penting karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di selat tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak dan gas serta menciptakan tekanan baru terhadap perekonomian global.

Halaman Selanjutnya
img_title