Demokrasi Kita di Tengah Algoritma
- Istimewa/AI
VIVA Jakarta – Sadarkah kita, belakangan ini dalam pesta demokrasi di Tanah Air kita sudah mulai terbiasa dengan suatu pemandangan yang sama. Tapi bila kita menengok ke belakang, dalam euforia pesta demokrasi elektoral, kita pernah mengalami suasana yang riuh penuh dengan atribut. Di jalan-jalan, baliho mendominasi dan rapat umum dipadati massa.
Kondisi demikian sudah hampir tidak banyak ditemukan. Yang jauh lebih ramai di jalan-jalan itu kini berpindah ke linimasa media sosial. Ruang tersebut dipenuhi video kampanye, potongan pidato, meme politik, sampai pada adu atau perang tanda pagar (tagar).
Hiruk pikuk politik seperti berpindah ke layer handphone. Kini ruang publik bukan lagi di lapangan luas, di aula gelanggang atau gedung yang mampu menampung massa. Tapi ruang itu berpindah di media baru, new media seperti Tiktok, Instagram, X (twitter), Youtube, sampai grup WhatsApp.
Transformasi ini memperlihatkan bahwa media baru sebenarnya sudah mengubah wajah politik elektoral di Tanah Air. Melakukan kampanye menjadi lebih cepat, bahkan dapat menjangkau jutaan pemilih dalam waktu singkat hanya hitungan menit bahkan.
Dalam konteks ini, kita patut juga bertanya, apakah kehadiran media baru ini memperkuat demokrasi kita? Atau sebaliknya, semakin mudah dimanipulasi?
Ada sebuah perspektif yang menarik dari Leo Suryadinata dalam Election Politics and New Media in Indonesia: Continuity and Change (2021). Bagi dia, perkembangan digital saat ini memang memberi dampah pada politik terutama dari sisi cara bagaimana aktor-aktor menjalankan politik. Tetapi sebenarnya secara karakter politik Indonesia, tidak berubah. Perubahan terjadi hanya pada mediumnya, bukan substansi relasi kekuasaan.
Beberapa karakteristik yang masih bisa kita lihat seperti patronase, dominasi elite, sampai pada politik identitas. Situasi yang berbeda hanya pada penguasaan ruang, yang dulu elite menguasai ruang-ruang media kini di ruang digital lewat algoritma. Juga ad aperan influencer sampai pada jaringan media sosial. Kampanye yang diwarnai hiruk pikuk di atas panggung perlahan bergeser pada konten viral, siaran langsung lewat medsos, sampai video pendek.