Benarkah Diet Makan Satu Kali Sehari Efektif? Ahli Peringatkan Risiko Gangguan Kantung Empedu

Pasien jalani perawatan medis. (Foto ilustrasi).
Sumber :
  • Antara FOTO

VIVA Jakarta – Diet dengan pola makan satu kali sehari atau One Meal A Day (OMAD) semakin populer di kalangan masyarakat yang ingin menurunkan berat badan dengan cepat. Metode ini merupakan salah satu bentuk puasa intermiten (intermittent fasting), yakni mengatur waktu makan dalam jangka tertentu dan berpuasa selama sisa waktu dalam sehari.

img_title Tidur Cuma 6 Jam Setiap Malam Bisa Ganggu Fungsi Otak, Ini Penjelasannya

Meski banyak orang menganggap pola makan tersebut efektif untuk memangkas asupan kalori, sejumlah pakar kesehatan mengingatkan bahwa penerapan OMAD secara ekstrem dapat memicu berbagai dampak negatif bagi tubuh. Salah satu organ yang berisiko mengalami gangguan adalah kantung empedu, yang memiliki fungsi penting dalam sistem pencernaan.

Seperti dikutip dari laman Hindustan Times, Ahli gizi Dasha mengungkapkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir ia menemukan peningkatan kasus masalah kantung empedu pada orang-orang yang menjalani puasa intermiten dengan pola makan hanya satu kali sehari.

img_title Jangan Keliru, Ini Perbedaan Nyeri Punggung karena Aktivitas dan Masalah Ginjal

Menurutnya, kantung empedu bertugas menyimpan cairan empedu yang diproduksi hati. Cairan tersebut kemudian dilepaskan ketika seseorang mengonsumsi makanan, terutama makanan yang mengandung lemak, sehingga proses pencernaan dapat berjalan dengan optimal.

Jika seseorang hanya makan sekali dalam sehari, kantung empedu tidak mendapat rangsangan yang cukup untuk melepaskan cairan empedu secara rutin. Akibatnya, cairan empedu dapat mengendap lebih lama di dalam kantung empedu dan membentuk endapan yang dikenal sebagai biliary sludge. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu apabila berlangsung dalam jangka panjang.

img_title Sering Lapar Lagi Padahal Baru Selesai Makan? Kenali Penyebab dan Tandanya

Selain risiko pada sistem pencernaan, pola makan yang terlalu ketat juga dapat memengaruhi keseimbangan energi tubuh. Ketika tubuh tidak memperoleh asupan makanan dalam waktu yang lama, sebagian orang dapat mengalami penurunan stamina, sulit berkonsentrasi, hingga rasa lapar berlebihan yang berujung pada makan dalam porsi besar saat waktu makan tiba.

Karena itu, Dasha menyarankan masyarakat memilih pola makan yang lebih realistis dan mudah dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu yang direkomendasikan adalah puasa selama sekitar 12 jam pada malam hari, yang dinilai lebih aman sekaligus tetap memberikan manfaat bagi kesehatan.

Halaman Selanjutnya
img_title