Ahli: Nikotin Ternyata Bukan Penyebab Utama Kanker

Ilustrasi rokok dan rokok elektrik.
Sumber :
  • Istimewa/AI

"Pemahaman yang tepat membantu masyarakat membedakan antara adiksi yang dipicu oleh nikotin, sedangkan kerusakan jaringan serta kanker dipicu oleh paparan senyawa toksik dan karsinogen hasil pembakaran tembakau," jelas Khotib.

img_title Pink Pulse Run 2026 Ajak Perempuan Tak Lagi Tunggu Gejala untuk Deteksi Dini Kanker Payudara

Meski demikian, ia menekankan bahwa nikotin bukan zat bebas risiko. Nikotin dapat menyebabkan ketergantungan, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, serta berpotensi memengaruhi perkembangan otak pada remaja dan janin. Karena itu, penggunaan produk yang mengandung nikotin tidak diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, maupun kelompok rentan.

Pentingnya Memperkuat Kajian Ilmiah Produk Tembakau Alternatif

img_title Akhiri Epidemi Merokok dengan Pendekatan Pengurangan Risiko

Pemahaman mengenai karakteristik dan profil risiko produk berbasis nikotin juga perlu terus diperkuat melalui penelitian. Kajian dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia dapat menjadi bagian penting dalam memperkaya bukti ilmiah, sekaligus memberikan gambaran yang lebih relevan dengan kondisi masyarakat dan pola penggunaan di dalam negeri.

Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo, mengatakan perbedaan karakteristik produk perlu dilihat berdasarkan bukti ilmiah. Menurutnya, setiap produk perlu dipahami berdasarkan karakteristiknya masing-masing, bukan dengan menggeneralisasi seluruh produk berbasis nikotin.

img_title Aturan Penyeragaman Kemasan Berpotensi Picu Berbagai Permasalahan Baru

"Produk tembakau alternatif memiliki karakteristik yang berbeda dari rokok, maka menyamakannya justru tidak proporsional. Jadi perbedaan yang dilihat itu ada atau tidaknya proses pembakaran, misalnya. Kemudian jenis emisi atau aerosol yang dihasilkan, kandungan produk, pola konsumsi, potensi paparan terhadap orang lain, kemudian pola konsumsi di masyarakat. Ini semua basisnya sains," katanya.

Menurut Ariyo, makin banyak data dan kajian ilmiah yang tersedia akan membantu membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai karakteristik, profil paparan, dan risiko produk tembakau alternatif. 

"Kebijakan harus bertumpu pada data, kajian ilmiah, dan evaluasi berkala," tutupnya.